Jumat, 30 Desember 2011

Menjemput Surga



Hari ini, tepat 40 hari saya meninggalkan kota Surabaya. Bagi sebagian umat Muslim, hari ke-40  merupakan hari yang sangat penting. Menurut kepercayaan mereka arwah orang yang meninggal dunia pergi meninggalkan bumi menuju alam barzah pada hari ke-40. Selama empat puluh hari itu, katanya arwah mereka masih bergentayangan di bumi. Makanya dalam waktu 40 hari itulah keluarga yang ditinggalkan mengadakan upacara pembacaan doa biar arwah tersebut tenang. Pembacaan doa atau yang disebut tahlilan itu biasanya dilakukan selama 7 hari berturut-turut. Setelah itu pada hari ke-40, ke-100 dan ke-1000. 

Tapi, hari ke-40 yang saya maksud di sini tidak terkait dengan meninggalnya seseorang. Ini hanya cara saya untuk memberi  arti pentingnya hari ini bagi perjalanan hidup saya. Empat puluh hari yang lalu, tepatnya tanggal 21 November 2011, saya resmi pindah tugas dari Surabaya ke Jakarta.

Sebenarnya kota Jakarta tidak terlalu istimewa bagi saya. Meskipun saya lahir dan dibesarkan di kota Jakarta, namun kota ini bukan kota impian saya paling tidak sejak saya tinggal di Surabaya.  Pertama kali saya meninggalkan Jakarta tahun 1991 setelah lulus dari Program Diploma Anggaran ke kota Banda Aceh untuk melaksanakan tugas di Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN) Banda Aceh bersama seorang teman asal Kudus. Setelah lebih dari 5 tahun tugas di Banda Aceh dan memiliki isteri dan seorang anak, pada tahun 1997 saya dimutasikan lagi ke Jakarta tepatnya di KPKN Jakarta III. 

Pada saat itu bisa pindah tugas ke tanah kelahiran bukanlah hal yang mudah. Apalagi mutasi saat itu adalah yang pertama kali sejak kantor pusat menempatkan lulusan Prodip Anggaran pada tahun 1990 di seluruh Indonesia. Pegawai lulusan Prodip Anggaran yang telah bertugas lebih dari 5 tahun di luar pulau Jawa pada tahun 1997 ditarik seluruhnya ke Jakarta, kecuali mereka yang memilih untuk tetap berada di tempat tugas yang lama. 

Karena orangtua dan saudara kandung saya semua ada di Jakarta maka kepindahan saya di kota ini seperti pulang kampung saja. Namun meskipun bisa dekat dengan orangtua dan saudara saya merasakan kehidupan yang sangat berbeda dengan kota sebelumnya, Banda Aceh. Jarak antara rumah dan kantor yang sangat jauh membuat saya harus berangkat lebih awal dan pulang lebih lambat dari biasanya. Belum lagi sarana transportasi dan kemacetan yang cukup membuat badan terasa penat ketika sampai di rumah. Meskipun begitu di kota ini anggota keluarga saya bertambah 2 orang anak laki-laki yang menambah kebahagian kami sekeluarga. Kehadiran istri dan anak-anak sungguh menjadi pengibur dan pengusir rasa lelah.

Namun di kota ini saya juga tidak bisa berlama-lama menikmati kebersamaan dengan keluarga besar. Pada tahun 2003 saya dipindahkan lagi sekaligus dipromosikan menjadi Kepala Sub Seksi di KPKN Selong. Istri dan ketiga anak saya bawa serta ke kota Selong karena berat rasanya kalau saya harus berjauhan dengan mereka. 

Pada tahun yang sama lahir anak saya yang keempat dan 2 tahun kemudian saya dipromosikan menjadi Kepala Seksi di KPPN Sumbawa Besar. Karena alasan pendidikan anak, saya tidak membawa istri dan anak-anak ke Sumbawa Besar, mereka tetap berada di Selong. Setiap Jumat sore saya pulang ke Selong dan kembali ke Sumbawa Besar pada Ahad sore dengan mengendarai sepeda motor menyeberang selat Sumbawa dengan kapal ferry, kemudian menyusuri jalan yang sepi pada malam hari demi buah hati dan ibu pertiwi. Hal itu berlangsung sekitar 1,5 tahun sampai saya dimutasikan ke KPPN Mataram pada saat pembukaan KPPN Percontohan tahap pertama pada tahun 2007. 

Pada saat tugas di Mataram selama 2 tahun itu saya pernah mengangankan kota tujuan mutasi setelah Mataram yaitu Banda Aceh. Banda Aceh menjadi pilihan karena saya ingin membawa keempat anak saya mengunjungi kampung halaman ibu dan nenek mereka. Sejak pindah dari Banda Aceh pada tahun 1997 hingga 2007 belum pernah sekalipun kami pulang ke Aceh. Masalah biaya dan kerepotan lainnya menjadi hal sangat saya pertimbangkan. Hal itu juga yang menyebabkan setiap Idul Fitri kami selalu merayakan di kota tempat saya bertugas. Termasuk ketika saya mutasi ke kota berikutnya pada tahun 2009, yaitu Surabaya, bukan Banda Aceh seperti yang saya harapkan.Waktu itu saya dimutasikan ke KPPN Surabaya I pada saat pembukaan KPPN Percontohan tahap III.


Ternyata kota Surabaya menawarkan dan memberikan banyak hal, mulai dari budaya dan masyarakatnya yang terbuka, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan hiburan yang berkelas, hingga keanekaragaman kulinernya yang sangat menggoda. Maka masa tugas 3 tahun sungguh terasa sangat singkat. Namun apa boleh buat, panggilan tugas ke kantor pusat sudah menunggu. Dengan berat hati akhirnya pada 21 November 2011 saya meninggalkan Surabaya menuju Jakarta meskipun harus berpisah sementara dengan istri dan anak-anak karena masih harus menyelesaikan sekolah sampai akhir Desember nanti.

Setelah 8 tahun meninggalkan Jakarta dan hidup di kota kecil yang nyaman seperti Selong, Sumbawa Besar, Mataram dan kota besar seperti Surabaya kemudian kembali lagi ke Jakarta, tentu banyak hal berbeda yang saya rasakan. Pindah ke Jakarta berarti saya harus mengulang kembali kehidupan 8 sampai 13 tahun yang lalu. Saya harus kembali menghadapi kemacetan, polusi dan banjir yang kerap melanda. Belum lagi masalah tempat tinggal. 

Untuk bisa memiliki rumah sendiri atau sekedar mengontrak rumah di Jakarta bukanlah hal yang mudah bagi saya pada saat itu. Berbagai upaya saya lakukan untuk mendapatkan tempat tinggal, mulai dari menumpang di rumah orang tua, mengontrak rumah petak dekat pinggir rel kereta api, hingga mengambil kredit rumah yang jauhnya memakan waktu 2 jam perjalanan dari rumah ke kantor. Sampai akhirnya rumah itu saya ditinggalkan dan kembali lagi ke rumah kontrakan. 

Hal itu pula yang saya lakukan sekarang yaitu berupaya untuk mendapatkan rumah untuk tempat tinggal bersama keluarga. Ingin menempati rumah sendiri yang terletak di Maja (Lebak) terlalu jauh dan kurang memadai. Ingin mengontrak rumah yang tidak terlalu jauh dari kantor juga terasa berat karena harganya yang cukup mahal. Harapn satu-satunya adalah menempati rumah dinas meskipun harus menunggu karena keterbatasan rumah dinas yang tersedia. Akhirnya  menumpang di rumah orang tua menjadi pilihan sementara sambil menunggu kepastian ijin menempati rumah dinas dan istri serta anak-anak juga masih  di Surabaya.


Jadi, sebenarnya sama seperti kepercayaan sebagian umat Muslim yang saya sebut di atas, sebenarnya selama 40 hari ini saya masih ‘gentayangan’ dalam artian saya masih tinggal di rumah orang tua, rumah tempat saya dibesarkan. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapatkan rumah dinas Kementerian Keuangan yang terletak di Karang Tengah (Ciledug, Tangerang) yang akan saya tempati selama bertugas di kantor pusat. Makanya, setelah selama 40 hari lamanya tidak bertemu istri dan anak-anak tercinta, Insyaallah  sore hari ini tanggal 30 Desember 2011 saya akan pulang ke Surabaya untuk menjemput ‘bidadari’ dan ‘malaikat kecil’ saya. Bagi saya mereka adalah  ‘surga’ tempat saya kembali.

Ya, saya menyebutnya surga karena ada pepatah yang mengatakan ‘rumahku adalah surgaku’. Kita semua pasti menginginkan rumah yang kita tempati, meskipun sederhana, menjadi tempat yang menyenangkan, memberi  rasa tentram dan damai, serta menemukan kenikmatan-kenikmatan seperti yang ada di surga yang sesungguhnya nanti. Rumah itu akan menjadi surga bila ada 'bidadari' dan 'malaikat kecil' yang akan selalu bersama kita dalam keadaan suka maupun duka.



               

Kamis, 29 Desember 2011

Busway....oh Busway


Setelah lebih dari sebulan berkantor di Lapangan Banteng, Jakarta, baru kemarin sore saya pulang ke rumah menggunakan bus TransJakarta. Biasanya pergi atau pulang kantor saya  menggunakan KRL Bekasi-Kota. Pada awal-awal saya di Jakarta pergi atau pulang kantor saya naik metro mini 47. Tapi naik kendaraan ini harus memiliki kesabaran dan nyali lebih. Harus sabar karena kepadatan lalu lintas jalan yang dilalui bus ini cukup tinggi. Meskipun tidak sampai menimbulkan kemacetan yang parah, waktu yang diperlukan untuk sampai ke kantor cukup lama yaitu lebih dari 1,5 jam. Harus punya nyali lebih karena awak Metro Mini 47 terkenal brutal. Kayaknya mereka mengendarai bus seperti nggak pakai perasaan.

Kira-kira hanya seminggu saya menggunakan metro mini, kemudian saya beralih menggunakan KRL. Dibandingkan naik metro mini ternyata naik KRL lebih nyaman dan memberi  kepastian. Dengan jadwal keberangkatan KRL dari stasiun Buaran jam 06.10 WIB saya sudah bisa sampai di kantor paling lambat jam 07.10 WIB. Kalo sedang tidak ada pekerjaan atau ingin cepat-cepat pulang, saya naik KRL  dari stasiun Juanda. Dengan jadwal keberangkatan pukul 17.17 saya sudah sampai di rumah sekitar jam 18.00 WIB. Alhamdulillah masih bisa ikut sholat jamaah Maghrib di masjid.
http://i.poskota.co.id/uploads/2011/11/busway3.jpg

Namun pengalaman naik bus TransJakarta kemarin memberikan kesan tersendiri bagi saya. Terdorong ingin merasakan rute baru busway Koridor XI  yang melayani jalur Kp. Melayu-Pulo Gebang, saya mencoba pulang kantor menggunakan bus TransJakarta. Dari kantor saya cukup berjalan kaki kira-kira 5 menit ke halte busway Budi Utomo. Setelah membeli tiket seharga Rp3.500,- saya ikut mengantri menunggu bus yang berhenti di halte tersebut. Ada dua jurusan bus yang melewati halte Budi Utomo yaitu jurusan Ancol - PGC dan Ancol - Kp. Melayu. Suasana di ruang tunggu halte waktu itu tidak terlalu ramai. Namun karena kondisi ruangan yang agak sempit dan kipas angin yang tidak berfungsi cukup membuat pengap suasana. Apalagi setiap bus yang berhenti hanya menurunkan penumpang saja tanpa bisa menaikkan penumpang membuat halte bertambah sesak. Untunglah pada bus ketiga saya bisa naik. Suasana di dalam bus juga tidak kalah sesaknya. Hampir tidak ada tempat untuk mengatur posisi tubuh agar bisa berdiri dengan nyaman.


Suasana seperti ini mengingatkan saya suasana KRL yang biasa saya tumpangi sekitar 8 tahun yang lalu ketika masih berkantor di Jakarta dan tinggal di Bekasi. Berita yang sempat saya baca atau dengar dari media masa mengenai kasus-kasus pelecehan seksual di busway terbayang dalam benak saya. Kondisi seperti ini memang sangat rawan terjadinya pelecehan seksual. Kebijakan Pemerintah untuk memberikan tempat khusus dalam bus atau halte untuk wanita kelihatannya memang cukup masuk akal. Tapi kalau armada bus yang tersedia tidak mencukupi untuk membuat penumpang lebih aman dan nyaman menurut saya kebijakan itu akan sia-sia.