Setelah lebih dari sebulan berkantor di Lapangan Banteng, Jakarta, baru kemarin sore saya pulang ke rumah menggunakan bus TransJakarta. Biasanya pergi atau pulang kantor saya menggunakan KRL Bekasi-Kota. Pada awal-awal saya di Jakarta pergi atau pulang kantor saya naik metro mini 47. Tapi naik kendaraan ini harus memiliki kesabaran dan nyali lebih. Harus sabar karena kepadatan lalu lintas jalan yang dilalui bus ini cukup tinggi. Meskipun tidak sampai menimbulkan kemacetan yang parah, waktu yang diperlukan untuk sampai ke kantor cukup lama yaitu lebih dari 1,5 jam. Harus punya nyali lebih karena awak Metro Mini 47 terkenal brutal. Kayaknya mereka mengendarai bus seperti nggak pakai perasaan.
Kira-kira hanya seminggu saya menggunakan metro mini, kemudian saya beralih menggunakan KRL. Dibandingkan naik metro mini ternyata naik KRL lebih nyaman dan memberi kepastian. Dengan jadwal keberangkatan KRL dari stasiun Buaran jam 06.10 WIB saya sudah bisa sampai di kantor paling lambat jam 07.10 WIB. Kalo sedang tidak ada pekerjaan atau ingin cepat-cepat pulang, saya naik KRL dari stasiun Juanda. Dengan jadwal keberangkatan pukul 17.17 saya sudah sampai di rumah sekitar jam 18.00 WIB. Alhamdulillah masih bisa ikut sholat jamaah Maghrib di masjid.
Kira-kira hanya seminggu saya menggunakan metro mini, kemudian saya beralih menggunakan KRL. Dibandingkan naik metro mini ternyata naik KRL lebih nyaman dan memberi kepastian. Dengan jadwal keberangkatan KRL dari stasiun Buaran jam 06.10 WIB saya sudah bisa sampai di kantor paling lambat jam 07.10 WIB. Kalo sedang tidak ada pekerjaan atau ingin cepat-cepat pulang, saya naik KRL dari stasiun Juanda. Dengan jadwal keberangkatan pukul 17.17 saya sudah sampai di rumah sekitar jam 18.00 WIB. Alhamdulillah masih bisa ikut sholat jamaah Maghrib di masjid.
http://i.poskota.co.id/uploads/2011/11/busway3.jpg
Namun pengalaman naik bus TransJakarta kemarin memberikan kesan tersendiri bagi saya. Terdorong ingin merasakan rute baru busway Koridor XI yang melayani jalur Kp. Melayu-Pulo Gebang, saya mencoba pulang kantor menggunakan bus TransJakarta. Dari kantor saya cukup berjalan kaki kira-kira 5 menit ke halte busway Budi Utomo. Setelah membeli tiket seharga Rp3.500,- saya ikut mengantri menunggu bus yang berhenti di halte tersebut. Ada dua jurusan bus yang melewati halte Budi Utomo yaitu jurusan Ancol - PGC dan Ancol - Kp. Melayu. Suasana di ruang tunggu halte waktu itu tidak terlalu ramai. Namun karena kondisi ruangan yang agak sempit dan kipas angin yang tidak berfungsi cukup membuat pengap suasana. Apalagi setiap bus yang berhenti hanya menurunkan penumpang saja tanpa bisa menaikkan penumpang membuat halte bertambah sesak. Untunglah pada bus ketiga saya bisa naik. Suasana di dalam bus juga tidak kalah sesaknya. Hampir tidak ada tempat untuk mengatur posisi tubuh agar bisa berdiri dengan nyaman.


Suasana seperti ini mengingatkan saya suasana KRL yang biasa saya tumpangi sekitar 8 tahun yang lalu ketika masih berkantor di Jakarta dan tinggal di Bekasi. Berita yang sempat saya baca atau dengar dari media masa mengenai kasus-kasus pelecehan seksual di busway terbayang dalam benak saya. Kondisi seperti ini memang sangat rawan terjadinya pelecehan seksual. Kebijakan Pemerintah untuk memberikan tempat khusus dalam bus atau halte untuk wanita kelihatannya memang cukup masuk akal. Tapi kalau armada bus yang tersedia tidak mencukupi untuk membuat penumpang lebih aman dan nyaman menurut saya kebijakan itu akan sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar