Foto ini saya ambil beberapa waktu yang lalu ketika saya naik KRL dari Stasiun Jatinegara menuju Stasiun Senen. Sebelum memasuki Stasiun Senen kereta berhenti di sebuah persimpangan jalan menghambat laju kendaraan lain yang sedari tadi menunggu untuk melewati perlintasan. Di sepanjang rel kereta daerah itu yang kanan kirinya dibatasi pagar tembok saya melihat banyak gubuk-gubuk liar yang dibangun para tuna wisma. Rumah-rumah itu hanya dibuat dari plastik dan kardus yang diikat dengan tali atau dijepit dengan bilah bambu agar tidak terbang ditiup angin. Tingginya kira-kira hanya sebahu orang dewasa sehingga mereka harus membungkukkan kepala kalau ingin memasuki 'rumah'.
Pintu rumah-rumah itu pun tidak selayaknya rumah kita yang bisa dibuka dan ditutup sesuai keinginan penghuninya. Pintu rumah-rumah itu hanya terbuat dari plastik atau kardus seperti dindingnya. Tanpa gagang pintu yang berkilat seperti di rumah kita atau anak kunci yang melindungi isi dan penghuni rumah dari pencuri atau perampok. Bila 'pintu' terbuka maka akan terlihat isi dan aktifitas penghuninya di dalam. Meskipun ada beberapa gubuk yang di dalamnya sudah dihiasi sebuah dispenser atau televisi, tapi nampaknya tak terlihat sebuah tempat tidurpun di sana. Nampaknya mereka hanya tidur beralaskan tikar atau terpal. Bila cukup beruntung mereka bisa tidur di atas kasur tipis yang kadang mereka pakai sebagai alas duduk.
Seperti hari-hari sebelumnya ketika KRL yang saya tumpangi kebetulan berhenti di tempat yang sama saya sempat memperhatikan sebuah gubuk yang dihuni oleh sebuah keluarga. Aktifitas anak-anak di sekitar gubuk tersebut begitu menarik perhatian saya. Di gubuk itu saya melihat dua orang kakak beradik yang berpenampilan layaknya anak-anak tunawisma. Entah apa yang ada dalam pikiran saya sehingga saya membayangkan anak-anak itu kalau besar jadi apa. Sulit membayangkan dengan kondisi seperti itu mereka bisa meraih masa depan yang lebih baik. Tapi semua keraguan itu sedikit terjawab dengan pemandangan yang saya lihat. Ternyata dibalik kehidupan yang serba kurang itu masih ada anak yang memiliki semangat belajar. Dengan keterbatasannnya masih bisa kita lihat seorang anak belajar di dalam gubuknya yang reot di antara bisingnya suara kereta api yang lewat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar