Selasa, 29 Oktober 2019

Jalan Pulang


Pagi itu, Senin 29 Oktober 2018, seperti biasa saya melakukan absensi masuk kerja di mesin handkey kantor saya, Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Prov. Bangka Belitung, yang terletak di depan ruang kerja Bidang PPA II dan SKKI. Waktu di layar mesin handkey menunjukkan pukul 07.25. Saya letakkan kelima jari tangan kanan saya di atas layar dan memastikan bahwa proses absensi sudah diterima sistem. Jangan sampai terjadi absensi belum diterima tapi sudah beranjak pergi meninggalkan mesin handkey. Kalau terjadi hal seperti itu maka penghasilan akan dipotong sebesar 2,5% karena dianggap lalai tidak melakukan absensi. Ketentuan tersebut berlaku di lingkungan Kementerian Keuangan baik di kantor pusat maupun di unit kerja yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ketika memasuki ruangan saya lihat beberapa pegawai sudah berada di mejanya masing-masing. Saya melihat meja Pak Abdul Khaer, salah satu orang Kepala Seksi di Bidang PPA II masih kosong. Biasanya Pak Abdul Khaer sudah berada di mejanya memulai aktifitasnya di pagi hari. Pegawai yang satu ini termasuk pegawai yang paling rajin, selalu hadir lebih awal dibandingkan pegawai yang lain.
 “Ah mungkin Pak Abdul Khaer Jumat kemarin pulang ke Tangerang dan sekarang masih dalam perjalanan dari bandara ke kantor,” pikir saya. 

Sama seperti pegawai lainnya yang berstatus ‘bulok’ atau ‘bujang lokal’, biasanya Jumat sore Pak Abdul Khaer pulang ke Tangerang untuk bertemu istri dan anak-anaknya dan kembali ke Pangkalpinang Senin pagi keesokan harinya.  Karena penerbangan pertama pesawat dari Jakarta ke Pangkalpinang pukul 06.00 biasanya Pak Abdul Khaer dan pegawai lain yang pulang baru tiba di kantor setelah pukul 07.30. Dengan adanya kebijakan flexy time pegawai yang absensi setelah pukul 07.30 sampai pukul 08.00 tidak diperhitungkan terlambat, tetapi mereka harus menggantinya dengan absensi pulang lebih lambat sebanyak waktu keterlambatan absensi masuk tadi.

 “Assalamu’laikum...!” sapa saya kepada semua pegawai.
“Waalaikum salam...Pak,” jawab Lisa dengan suara yang sedikit lantang sambil melemparkan senyum. Lisa adalah salah satu pegawai pelaksana di Bidang PPA II

Kemudian saya masuk ke ruang kerja dan meletakkan tas kecil berisi handphone, charger, dan alat tulis di atas meja. Sejurus kemudian saya ke musholah untuk melaksanakan sholat dhuha. Di musholah ini biasanya Pak Abdul Khaer juga melaksanakan sholat dhuha. Ketika sama-sama tinggal di rumah dinas di belakang kantor, kami sering bersama-sama ke masjid yang tidak jauh dari rumah dinas untuk melaksanakan sholat berjamaah. Selain rajin beribadah, Pak Abdul Khaer ini terkenal sebagai orang yang santun dan ramah kepada semua orang. Pak Abdul Khaer juga kerap membeli makanan atau buah-buahan untuk dimakan bersama-sama teman kantor. Untuk urusan pekerjaan Pak Abdul Khaer juga selalu mengerjakannya dengan baik dan tepat waktu. Tak heran kalau Pak Abdul Khaer dinobatkan sebagai Pegawai Teladan Kanwil DJPb Prov. Bangka Belitung.

Selesai sholat dhuha saya segera kembali ke ruangan. Ketika memasuki ruangan saya melihat seperti ada kegaduhan dan raut wajah cemas para pegawai.
“Ada apa mba Lis? Kok sepertinya ada yang tidak beres?” tanya saya pada Lisa.
“Pesawat Pak Abdul Khaer hilang kontak Pak,” jawab Lisa dengan suara parau dan terbata-bata.
“Apa? Hilang kontak?” tanya saya kembali tak percaya.
“Iya Pak. Itu ada beritanya di televisi,” jawab Lisa menyakinkan saya sambil menunjuk ke televisi di ruangan.
Saya yang biasanya tidak terlalu peduli dengan siaran televisi langsung menonton siaran televisi yang sedang menyampaikan berita tentang pesawat Lion Air JT 610 yang hilang kontak.
“Tidak....pesawat itu pasti akan baik-baik saja,” kata saya dalam hati berusaha menghilangkan rasa cemas.

Semua pegawai seakan tidak percaya dengan berita yang mereka dengar. Mereka saling bertanya satu sama lain siapa saja pegawai yang biasanya Jumat pulang dan pagi ini belum tiba di kantor.
“Pak Sony di mana, sudah sampai belum?” tanya Ibu Rondang dengan wajah cemas pada rekan kerja di sebelahnya. Pak Sony adalah kepala seksi yang baru dilantik sepekan yang lalu bersama Ibu Rondang. Pekan ini adalah perjalanan pertama Pak Sony ke Pangkalpinang setelah pulang ke Bandung menengok keluarganya Jumat sore kemarin.

“Belum Bu,“ jawab Pak Setya Twiono singkat. Pak Setya Twiono atau yang biasa kami panggil Mas Ono  adalah pegawai pelaksana bawahan Pak Sony.
“Dari Bagian Umum, PPA I, PAPK...siapa yang belum datang?” tanya Pak Wahyu.
“Dari Bagian Umum Pak Bambang dan Pak Endang....” jawab Pak Nazif.
“PAPK Pak Fadilah dan Pak Eko...juga belum sampai” timpal Pak Zuhdi.
“Pak Asep dan Pak Syaiful PPA I bagaimana?” tanya Ibu Rita sambil tergopoh-gopoh keluar dari ruang kerjanya.
“Pak Asep dan Pak Syaeful tidak pulang Bu. Kemaren mereka bersama saya lembur di kantor,” jawab Pak Joko yang baru tiba di ruangan kami untuk mencari informasi keberadaan pegawai lain.

Ibu Rita, Pak Joko, Pak Asep dan Pak Syaeful sebenarnya termasuk pegawai yang sering pulang kampung setiap Jumat sore dan kembali Senin pagi. Bersama pegawai lainya biasanya mereka kembali ke Pangkalpinang dengan pesawat yang sama. Tapi pekan ini mereka tidak pulang mungkin karena pekan lalu sudah pulang atau karena masih ada keperluan lain di Pangkalpinang.

“Pak Joyo Nuroso KPPN Pangkalpinang kata anak buahnya Jumat sore juga pulang dan pagi ini belum tiba di kantor,” kata Fajar pegawai pelaksana Bidang PPA II yang sedari tadi terdiam seakan tidak bisa berkata apa-apa.
“Ya Allah...berarti tujuh orang kawan-kawan kita  menumpang pesawat Lion Air JT 610,” kata saya lagi berusaha menyimpulkan informasi tersebut.

Akhirnya semua pegawai kembali memperhatikan berita yang disampaikan melalui televisi di ruangan kami. Masing-masing berusaha menenangkan perasaannya yang cemas bercampur sedih mendengar berita ini. Dan saya terus berdoa semoga pesawat  tersebut bisa segera dihubungi oleh pihak bandara Soekarno-Hatta dan semuanya dalam kondisi baik dan selamat.

Tapi tiba-tiba kru di televisi menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan otoritas bandara Soekarno-Hatta, pesawat Lion Air JT 610 dinyatakan jatuh. Seketika semua pegawai di ruangan berteriak histeris sambil menutup telinga seakan tak ingin mendengar berita itu. Sebagian pegawai menutup wajah sambil mengusap air mata yang sedari tadi tertahan. Kalimat innalillahi wainna ilaihi rojiun” pun meluncur dari mulut mereka.

Pak Supendi, kepala kantor kami yang sedari tadi mengikuti berita ini di ruang kerjanya, turun dan bergabung dengan kami. Beliau memerintahkan Pak Mujiono selaku Kepala Bagian Umum untuk segera ke bandara Depati Amir untuk memastikan siapa saja pegawai yang termasuk sebagai penumpang pesawat Lion Air JT 610. Akhirnya saya dan beberapa pegawai lain ikut ke bandara Depati Amir menggunakan mobil dinas kantor. 

Di dalam mobil yang membawa kami ke bandara kami mendapat berita yang simpang-siur tentang keberadaan pesawat itu. “Pak ini saya dapat pesan Whatsapp, katanya pesawat sudah mendarat dengan selamat di bandara,” kata Pak Asep menyampaikan berita yang diterimanya.
“Wah benar tidak berita itu Pak? Hati-hati dalam situasi seperti ini sering ada berita-berita yang tidak jelas kebenarannya,” kata Pak Mujiono.
“Oh ya Pak, ternyata pesan ini dari penumpang pesawat Sriwijaya yang jadwalnya hampir sama dengan Lion Air,” kata Pak Asep meralat informasinya.
“Barusan saya juga dapat informasi dari Ibu Rita, ternyata Pak Sony naik pesawat Sriwijaya bukan Lion Air,” kata Pak Tantowi.
“Wah mana yang benar ini...semalam saya lihat di facebook Pak Sony memajang foto tiket pesawat Lion Air.  Tapi pagi ini di status facebok beliau bilang ketinggalan pesawat,” kata Pak Asep lagi menyampaikan berita yang tidak kalah hebohnya.
“MasyaAllah...bisa jadi Pak Sony ketinggalan pesawat Lion Air kemudian naik pesawat Srwijaya,” kata saya berandai-andai.

Ketika tiba di bandara saya lihat ruang lobby bandara sudah penuh dengan orang yang mencari informasi tentang Lion Air JT 610. Mereka berdesak-desakan ingin bertemu dengan pihak yang berwenang untuk mengetahui nasib keluarga atau kerabat mereka. Karena petugas tidak mungkin melayani pertanyaan masyarakat satu per satu, akhirnya petugas membacakan daftar penumpang Lion Air JT 610.  Berdasarkan informasi tersebut Pak Abdul Khaer bersama lima pegawai Kanwil dan KPPN termasuk dalam daftar penumpang pesawat Lion Air yang jatuh itu yaitu Bambang Rozali Usman, Akhmad Endang Rokhmana, Mohamad Fadillah, Eko Sutanto, dan Joyo Nuroso. Dan....Pak Sony tidak termasuk sebagai penumpang pesawat Lion Air JT 610.

Akhirnya saya berusaha mencari informasi lebih detail tentang Pak Sony. Informasi yang saya terima ternyata  Pak Sony terlambat datang ke bandara sehingga tertinggal pesawat Lion Air yang seharusnya ia tumpangi. Karena harus segera masuk kantor akhirnya Pak Sony naik pesawat Sriwijaya.

Saat itu juga saya menghubungi Pak Sony melalui telepon genggam. Ternyata Pak Sony baru saja turun dari pesawat Sriwijaya yang membawanya dari Jakarta ke Pangkalpinang. Saya lihat dari balik kaca ruang kedatangan Pak Sony berjalan dengan langkah sedikit gontai. Sepertinya ada kegalauan dan kegamangan yang berkecamuk dalam hatinya. Ketika Pak Sony keluar dari pintu ruang kedatangan, saya dan teman-teman pun menyalami dan memeluknya bergantian. 

“Selamat ya Pak Sony...Allah masih melindungi Bapak,” kata saya sambil memeluk tubuhnya yang gemuk. Saya merasakan tubuhnya bergetar dan agak lemas.
“Terima kasih Pak, rupanya Allah punya rencana lain untuk saya kenapa saya terlambat sampai di bandara Soekarno-Hatta dan tertinggal pesawat Lion Air,” kata Pak Sony berusaha menjelaskan rasa penasaran kami.
“Waktu berangkat saya tidak tahu ada musibah ini, saya baru tahu di sini setelah pesawat saya mendarat,” kata Pak Sony lagi seperti tidak percaya dengan kejadian ini. Saya berusaha menenangkan Pak Sony dan menceritakan kejadian yang sebenarnya dan kabar teman-teman kantor yang naik pesawat Lion Air naas itu.

Sambil menunggu Pak Mujiono berkoordinasi dengan pihak bandara untuk menentukan langkah-langkah berikutnya, saat itu juga saya menelepon isteri Pak Abdul Khaer melalui telepon genggam. Cukup lama juga telepon berdering dan baru diangkat setelah beberapa menit kemudian. Saya sempat terdiam tidak tahu apa yang mau dikatakan. 

“Assalamu’alaikum...maaf dengan siapa ya?” akhirnya terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.
“Maaf apa benar ini dengan Ibu Mutoharoh?” kata saya malah balik bertanya.
“Iya...betul...” jawab Ibu Mutoharoh dengan suara datar.
“Ibu... Ibu sudah mengetahui berita jatuhnya pesawat Lion Air?” tanya saya kemudian.
“Sudah tahu Pak dari televisi,” jawab Ibu Mutoharoh tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
“Ibu ikhlaskan Pak Abdul Khaer ya. Semoga Ibu tabah menghadapi musibah ini,” kata saya berusaha menguatkan Ibu Mutoharoh.
“Memang sudah pasti pesawatnya jatuh ya Pak? Memang sudah pasti semua penumpangnya tidak ada yang selamat?” tanya Ibu Mutoharoh seakan tidak percaya dengan berita itu.
“Menurut penjelasan dari pihak yang berwenang pesawat yang ditumpangi Pak Abdul Khaer memang jatuh Bu,” jawab saya mencoba menyakinkan.
“Sementara ini masih dilakukan pencarian pesawat dan penumpang Bu. Kita berdoa saja semoga penumpangnya selamat,” kata saya lagi meski agak ragu.

Akhirnya tidak lama kemudian saya mengakhiri percakapan karena Ibu Mutoharoh saat itu masih di ruang kelas sedang mengajar. Saya sangat kagum dengan isteri Pak Abdul Khaer ini. Beliau sangat tegar dengan musibah yang dihadapinya. Di tengah-tengah berita jatuhnya pesawat yang ditumpangi suaminya, beliau masih sempat mengajar melaksanakan tugasnya sebagai guru di sebuah MTsN. Beberapa waktu yang lalu saya beserta istri pernah bertemu beliau dan anak-anaknya ketika liburan sekolah ke Pangkalpinang. 

Namun saya sangat merasakan sebenarnya Ibu Mutoharoh berusaha menekan perasaannya. Pasti beliau berharap tidak terjadi apa-apa dengan suaminya. Dalam pembicaraan melalui telepon Ibu Mutoharoh juga sempat bercerita saat-saat terakhir melepas Pak Abdul Khaer berangkat menuju bandara menjelang subuh. Sebenarnya keberangkatan Pak Abdul Khaer sempat terhambat dengan pesanan taksi online yang 2 kali dibatalkan. Padahal daerah tempat tinggal Pak Abdul Khaer termasuk yang mudah untuk akses taksi online. Menurut Ibu Mutoharoh mungkin karena malam itu baru turun hujan sehingga mempengaruhi jumlah pengemudi yang siap menerima pesanan. 

Akhirnya Pak Abdul Khaer memesan taksi konvesional melalui telepon rumah. Karena nomor telepon yang digunakan sudah terdaftar dalam sistem perusahaan taksi tersebut maka tidak lama kemudian taksi tiba di depan rumah. Sebelum naik taksi Pak Abdul Khaer berpamitan dengan isterinya. Sebuah kecupan lembut di kening Ibu Mutoharoh seakan menjadi kecupan terakhir  dari Pak Abdul Khaer. Pak Abdul Khaer juga masih sempat menitip salam buat anak-anaknya yang masih tertidur lelap dan berpesan pada istrinya untuk selalu menjaga mereka. 

Karena di luar masih terasa rintik-rintik air hujan semalam, Ibu Mutoharoh hanya melepas Pak Abdul Khaer dari depan pintu rumah tidak sampai pintu taksi. Ibu Mutoharoh hanya melihat lambaian tangan suaminya dari dalam taksi tanpa sempat membalasnya. Hal itulah yang mungkin menambah kesedihan Ibu Mutoharoh sehingga beliau masih tidak percaya dengan peristiwa yang telah terjadi.

Akhirnya saya dan teman-teman segera kembali ke kantor untuk melaporkan nama-nama pegawai yang ikut dalam pesawat Lion Air JT 610 ke kepala kantor. Namun ternyata korban tidak hanya berasal dari unit kerja DJPb saja tetapi juga dari KPKNL Pangkalpinang, KPP Pratama Pangkalpinang  dan KPP Pratama Bangka. Total pegawai Kementerian Keuangan yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 berjumlah 21 orang.

Suasana di kantor hari itu begitu terasa mencekam. Seharian itu sepertinya kami tidak lagi memiliki semangat kerja. Kami merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Tetapi kami berusaha saling menguatkan satu sama lain. 

Saat itu saya masih sempat berpikir, “Ah seandainya saja hari Jumat sore itu mereka tidak pulang menemui keluarganya, mungkin mereka tidak akan mendapat musibah ini.” Tapi musibah ini adalah kehendak Sang Pencipta. Semua kejadian sudah ditakdirkan oleh Allah, kita tinggal menjalaninya saja. Kita semua pasti akan kembali kepada-Nya. Kita tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana kita akan menghadap Allah kelak. Termasuk cara bagaimana penumpang pesawat Lion Air JT 610 itu kembali kepada-Nya. Pak Abdul Khaer dan teman-teman saya yang ikut menjadi korban jatuhnya pesawat pesawat Lion Air JT 610 adalah pejuang bangsa dan keluarga. Mereka harus pergi untuk melaksanakan tugas sebagai abdi negara dan pulang kembali untuk melepaskan rasa rindu kepada keluarga meskipun hanya sebentar.  Dan Allah telah memilihkan mereka jalan pulang  menuju keabadian surga-Nya.

Rabu, 09 Oktober 2019

Kinerja Penyaluran DAK Fisik Bangka Belitung


Penyaluran DAK Fisik di Provinsi Kep. Bangka Belitung sampai dengan akhir triwulan III-2019 terbilang masih rendah. Berdasarkan data dari aplikasi Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (OMSPAN) dari pagu sebesar Rp701 miliar baru disalurkan Rp311,11 miliar atau  baru 44,41%. Rendahnya penyaluran ini tentu akan mempengaruhi kinerja pelaksanaan kegiatan DAK Fisik itu sendiri. Apalagi tahun anggaran 2019 akan segera berakhir tentu memerlukan upaya lebih agar kegiatan yang dibiayai oleh DAK Fisik di Bangka Belitung dapat berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan. Jangan sampai dana yang telah disediakan oleh Pemerintah Pusat tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal karena adanya kesalahan dalam pengelolaannya.


Berdasarkan data realisasi per pemerintah daerah, Kabupaten  Bangka Tengah menempati posisi tertinggi dalam penyaluran yaitu sebesar 64,37 % disusul oleh Kab. Bangka (64,01%), Kab. Bangka Barat (58,36%) Kab. Bangka Selatan (57,64%) dan Kota Pangkalpinang (44,91%). Sedangkan posisi terendah ditempati oleh Kab. Belitung yaitu sebesar 19,50% disusul oleh Kab. Belitung Timur (20,67%) dan  Prov. Babel (29,68%). Hal ini menunjukkan penyaluran DAK Fisik di Bangka Belitung rata-rata masih di bawah 70%, bahkan ada yang di bawah 25%.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 50/PMK.07/2017 tentang Pengelolaan Transfer Daerah dan Dana Desa, DAK Fisik bertahap disalurkan dalam tiga tahap.  Tahap I dan tahap II masing-masing sebesar 25% dan 45% dari pagu masing-masing bidang, sedangkan tahap III sebesar selisih antara kebutuhan dana untuk menyelesaikan pekerjaan dengan dana yang sudah diterima pada tahap I dan II. Berdasarkan jadwal penyaluran sebenarnya sekarang sudah memasuki tahap III yang sudah dimulai sejak awal September lalu. Namun hingga akhir September 2019 DAK Fisik di Bangka Belitung yang disalurkan rata-rata baru tahap I dan II. Untuk penyaluran tahap II sendiri yang batas waktu penyampaian dokumen persyaratannya pada 21 Oktober 2019 masih terdapat 2 kabupaten yang belum salur yaitu Kab. Belitung dan Kab. Belitung Timur.  Sementara apabila dilihat dari  bidang kegiatan yang dibiayai, dari 77 bidang kegiatan yang tersebar di 8 pemda sampai saat ini yang sudah salur sampai tahap II baru 40 bidang sehingga masih ada 37 bidang lagi yang belum salur tahap II. Dari 8 pemda  baru 2 pemda yang seluruh bidangnya telah salur tahap II yaitu Kab. Bangka dan Kab. Bangka Tengah masing-masing 13 dan 9 bidang.



Masih rendahnya penyaluran DAK Fisik tersebut bisa jadi karena realisasi penyerapan DAK Fisik yang telah diterima oleh Pemerintah Daerah belum memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Sesuai ketentuan, syarat penyaluran tahap II adalah  laporan realisasi penyerapan dana yang menunjukkan paling sedikit 75%  dari dana yang telah diterima di RKUD dan capaian output kegiatan DAK Fisik per jenis per bidang sampai dengan tahap I. Sebenarnya untuk mencapai realisasi penyerapan 75% tidak terlalu sulit.  Apabila dilihat dari capaian outputnya, dengan penyerapan paling sedikit 75% dari dana yang diterima  pada tahap I (25%) berarti paling tidak perkembangan fisik di lapangan sudah mencapai 20%.  Capaian output sebesar 20% sebenarnya tidak terlampau besar, apalagi besaran capaian output tahap I tidak termasuk yang dipersyaratkan. Hanya saja  mulai tahun anggaran 2019 laporan capaian output DAK Fisik tahap I harus direviu oleh APIP terlebih dahulu. Persyaratan reviu APIP inilah yang disinyalir menjadi salah satu penyebab rendahnya penyaluran DAK Fisik di Babel. Selain reviu APIP, masih rendahnya penyaluran DAK Fisik disebabkan terlambatnya penyaluran tahap I. Sesuai ketentuan, tahap I disalurkan mulai Februari  hingga Juli.  Apabila penyaluran tahap I baru dilakukan pada akhir periode (Juli) maka pemda hanya memiliki waktu kurang dari 3 bulan untuk melaksanakan kegiatan dengan penyerapan paling kurang 75% sebelum tanggal 21 Oktober 2019 sebagai syarat penyaluran tahap II. 

Berbagai upaya sebenarnya telah sering dilakukan Kanwil DJPb Prov. Bangka Belitung sebagai instansi vertikal Kementerian Keuangan yang memiliki tugas melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penyaluran DAK Fisik di daerah. Kanwil DJPb  Prov. Bangka Belitung telah beberapa kali melaksanakan koordinasi baik dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Dalam setiap pertemuan tersebut selalu disampaikan perkembangan penyaluran DAK Fisik masing-masing daerah dengan harapan pemerintah daerah memberi perhatian terhadap pelaksanaan kegiatan DAK Fisik di wilayahnya. Termasuk juga mengingatkan pemda untuk aktif melakukan perekaman data penyerapan dan capaian output DAK Fisik pada aplikasi OMSPAN. Dalam setiap pertemuan sering kali ditemui perbedaan data antara yang disampaikan pemda dan yang terdapat di aplikasi OMSPAN. Perbedaaan data tersebut tentu akan memberikan informasi yang berbeda dengan keadaan yang sebenarnya. Data dan informasi yang akurat dan aktual sangat penting sebagai dasar dalam pembuatan kebijakan dan keputusan selanjutnya.
 
Keberhasilan program pemerintah melalui DAK Fisik sangat ditentukan oleh partisipasi semua pihak, tanpa terkecuali baik pemerintah pusat mapun pemerintah daerah. Untuk itu seluruh pemerintah daerah di Prov. Kepulauan Bangka Belitung hendaknya memberi perhatian lebih terhadap pelaksanaan kegiatan DAK Fisik di wilayahnya masing-masing. Setiap OPD pemilik kegiatan yang dibiayai DAK Fisik agar segera melaksanakan kegiatan dan menyampaikan permintaan pembayaran sesuai dengan progress yang telah dicapai ke BPKAD/Bakuda masing-masing. Setiap SP2D yang telah diterbitkan agar segera dilakukan perekaman di aplikasi OMSPAN sehingga data penyerapan di aplikasi sesuai dengan keadaan riil di lapangan. Apabila syarat penyaluran tahap II sudah dapat dipenuhi agar segera membuat laporan penyerapan dan capaian output dan menyampaikan ke APIP untuk dilakukan reviu.  Setelah itu meng-upload laporan yang telah direviu ke aplikasi OMSPAN sebelum tanggal 21 Oktober 2019. Pemerintah daerah agar senantiasa meningkatkan koordinasi dengan KPPN mitra kerjanya untuk memastikan bahwa semua persyaratan yang telah ditentukan telah dipenuhi dengan lengkap dan benar untuk menghindari keterlambatan dalam penyampaian dokumen yang dapat menyebabkan gagal salur. APIP masing-masing daerah agar dapat memberikan bimbingan dan supervisi kepada semua OPD dalam mengawal penyaluran dan pelaksanaan DAK Fisik di wilayahnya masing-masing. Dengan adanya partisipasi dan koordinasi semua pihak maka permasalahan yang ada dapat segera dipecahkan dan kegiatan dapat dilaksanakan sesuai rencana yang telah ditetapkan.


Jumat, 04 Oktober 2019

Kemenkeu Selenggarakan Seminar Ekonomi


Selasa (17/9) berlangsung kegiatan Seminar Kementerian Keuangan di ballroom Swiss-Belhotel Pangkalpinang, Bangka Belitung. Seminar bertajuk “Menjaga Kesehatan APBN di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global”  ini diselenggarakan oleh Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Seminar dibuka oleh Staff Ahli Bidang Politik dan Pemerintahan Umum Pemprov Kep. Bangka Belitung, H. Syahrudin, dan diikuti oleh 120 peserta yang berasal dari Kementerian Keuangan, Pemerintah Daerah, BPS, Bank Indonesia, perbankan, asosiasi, akademisi, mahasiswa, dan media massa lokal. Narasumber seminar adalah Direktur Penyusunan APBN Direktorat Jenderal Anggaran, Kunta W.D. Nugraha, Ketua Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomi UBB, Devi Valeriani, dan Kepala Kanwil DJPb Prov. Bangka Belitung, Alfiker Siringoringo, sedangkan moderator Kepala KPPN Tanjung Pandan, Yen Yen Nuryeni. Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan BKF dalam rangka diseminasi kebijakan fiskal di daerah. Selain seminar kegiatan lain yang dilakukan adalah kuliah umum di kampus Universitas Bangka Belitung (UBB) dan workshop simulasi APBN di Kanwil DJPb Prov. Bangka Belitung.




Dalam pemaparannya, Kunta W.D. Nugraha menyampaikan materi mengenai perkembangan ekonomi terkini dan pokok-pokok kebijakan RAPBN 2020. Dewasa ini risiko ketidakpastian global semakin meningkat yang berimbas pada menurunnya prospek permintaan dan kinerja perdagangan dunia. Prospek ekonomi global masih menghadapi risiko ketidakpastian yang bersumber dari kebijakan ekonomi dan moneter Amerika Serikat, perang dagang yang masih berlanjut antara AS-Tiongkok, dan ketidakpastian zona Eropa (a.l Brexit) dan geopolitik global. IMF dalam World Economic Outlook Juli 2019, kembali merevisi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2019-2020 menjadi 3,2% dan 3,5%, lebih rendah 0,1% dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya. Aktivitas riil perekonomian negara-negara di dunia dan harga komoditas turut mengalami tekanan sejalan dengan melambatnya perdagangan dunia. Pertumbuhan ekonomi sebagian besar negara di dunia melambat di triwulan I 2019. 

Namun demikian, seperti disampaikan Kunta, perekonomian domestik masih menunjukkan kinerja positif di tengah tekanan perekonomian global. Perekonomian Indonesia tahun 2019 dan 2020 diproyeksikan tetap dapat tumbuh stabil dan moderat di tengah tekanan global. Pertumbuhan ekonomi 2020 diproyeksi akan ditopang oleh kinerja konsumsi rumah tangga, PMTB, dan perbaikan ekspor. Selain itu Kunta juga menyampaikan bahwa tantangan pembangunan di Indonesia saat ini yaitu memperkuat daya saing nasional. Produktivitas dan daya saing harus ditingkatkan untuk mampu mengejar level  index GCI Malaysia (upper middle income) dan Korea Selatan (high  income). Pembangunan fokus pada aspek infrastruktur, kualitas SDM (kesehatan, skills, dan pasar tenaga kerja), kemampuan berinovasi dan adaptasi teknologi, serta sistem keuangan.  Perbaikan infrastruktur menjadi kunci penting dalam peningkatan daya saing dan produktivitas. Sebagaimana rilis IMD World Competitiveness Yearbook, peringkat Indonesia meningkat signifikan dari 43 di tahun 2018 menjadi peringkat 32 pada tahun 2019. 

Sejalan dengan itu tahun 2020 sebagai awal tahapan Jangka Menengah Pertama Menuju Pencapaian Visi Indonesia 2045, Pemerintah menetapkan tema Kebijakan Fiskal 2020 yaitu “APBN untuk Akselerasi Daya Saing melalui Inovasi dan Penguatan Kualitas SDM”. Adapun strateginya adalah  mobilisasi pendapatan, belanja negara yang efektif, dan pembiayaan yang kreatif.Terkait dengan RAPBN 2020, masih kata Kunta, Pemerintah juga telah menetapkan beberapa kebijakan dan inisiatif untuk meningkatkan penguatan kualitas sumber daya manusia dan daya saing yaitu insentif perpajakan dalam rangka mendukung peningkatan Sumber Daya Manusia dan daya saing, peningkatan kualitas SDM dan perlindungan sosial, dan percepatan penyelesaian 4 destinasi pariwisata super prioritas. Kebijakan dan inisiatif lain adalah penguatan Transfer ke Daerah dan Dana Desa, Dana Abadi untuk SDM dan kebudayaan dan penguatan Neraca Transaksi Berjalan. 



Narasumber kedua, Devi Valeriani, lebih banyak mengupas kondisi ekonomi makro Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dalam pemaparannya Devi menyampaikan bahwa Pertumbuhan ekonomi wilayah Sumatera mengalami perlambatan terkait karena struktur ekonominya yang mengandalkan komoditas sektor primer. Kepulauan Bangka Belitung pada triwulan I 2019 tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan triwulan IV 2018 dan masih terus berada di posisi bawah Sumatera dan Nasional. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terendah di antara 9 provinsi yang ada di Pulau Sumatera. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menempati urutan kesembilan sebagai penyumbang PDRB di PulauSumatera. Pada triwulan I 2019 kontribusi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 2,19% terhadap PDRB Pulau Sumatera dan 0,47% terhadap total PDRB Nasional. 

Selanjutnya Devi juga menyampaikan bahwa dilihat dari tingkat kesejahteraan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung termasuk kategori rendah di bawah rata-rata nasional. Di Pulau Sumatera TPT Provinsi Kepulauan Bangka Belitung nomor dua terendah. TPT terendah terdapat pada yang berpendidikan SMP ke bawah baik di desa maupun di kota. TPT tertinggi sebesar 6,00% di kota dan 11,76% di desa pada jenjang tinggi (diploma ke atas) Tingkat Kemiskinan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terendah ke-4 secara nasional pada Maret 2019. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)  Kepulauan Bangka Belitung sejak 2010 mengalami peningkatan. Pada tahun 2018 mencapai 70,67 (termasuk tinggi) atau peringkat 15 di Indonesia dan 6 di Sumatera.

Selain itu Devi juga menyampaikan tantangan dan prospek beberapa sektor yang menjadi keunggulan Kepulauan Bangka Belitung. Pertambangan timah merupakan pendorong utama perekonomian Kepulauan Bangka Belitung. Harga komoditi timah sangat berpengaruh terhadap perekonomian Kepulauan Bangka Belitung. Ekspor provinsi ini 76,67 %-nya adalah timah. Sementara sektor perikanan masih didominasi oleh perikanan tangkap yang didominasi oleh nelayan dengan kapasitas produksi skala kecil. Namun potensi ekspor perikanan masih cukup besar dengan pertumbuhan ekspor ikan yang mencapai 50,21% pada tahun 2018. Lada sebagai salah satu komoditi unggulan Kepulauan Bangka Belitung merupakan penyumbang terbesar (76%) produksi lada Indonesia dan juga salah satu eksportir terbesar lada dari Indonesia setelah Lampung. Dukungan pemerintah dan diterimanya sertifikat Indikasi Geografis Lada Putih Babel meningkatkan kontribusi lada sebagai komoditas unggulan ekspor. Dari sektor pariwisata terjadi peningkatan wisatawan baik wisatawan nusantara maupun wiatawan manca negara. Wisatawan nusantara periode 2014-2018 tumbuh sebesar 385%, pada 2014 sebanyak 204.193 orang dan pada 2018 mencapai 786.988 orang. Pada periode yang sama jumlah wisatawan mancanegara meningkat 650%, pada 2014 sebanyak 3.926 orang dan pada 2018 mencapai 25.579 orang. 

Pada bagian akhir pemaparannya beliau menyampaikan beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam pengembangan sektor unggulan Kepulauan Bangka Belitung.  Dalam pengembangan perikanan tangkap upaya yang dapat dilakukan antara lain penyediaan infrastruktur cold storage di wilayah Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pengembangan pasar sentra/lelang hasil perikanan, dan pengembangan Sistem Informasi Harian konsumen dan produsen hasil perikanan. Pengembangan sektor pertanian upaya yang dapat dilakukan antara lain pembangunan infrastruktur pertanian khususnya melalui pembangunan irigasi beberapa lokasi strategis (lahan produktif), gudang yang dekat dengan sentra produksi khususnya komoditas lada serta sarana jalan di wilayah pertanian, dan pembiayaan sektor pertanian melalui optimalisasi kredit program dan sistem resi gudang. Untuk pengembangan sektor pariwisata upaya yang dapat dilakukan antara lain pengembangan akses transportasi (aksesibilitas), peningkatan kompetensi SDM khususnya pemandu wisata dan menyediakan penjaga pantai, peningkatan sadar wisata masyarakat, dan sertifikasi biro wisata berizin untuk meningkatkan rasa kepercayaan wisatawan mancanegara menggunakan jasa biro wisata lokal.

Sementara itu narasumber dari Kanwil DJPb, Alfiker Siringoringo, menyampaikan materi terkait kondisi fiskal di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Selama periode 2016-2018 realisasi penerimaan negara yang tercatat di wilayah Kepulauan Bangka Belitung mengalami peningkatan cukup signifikan dengan rata-rata capaian 80,99%. Realisasi belanja pusat yang disalurkan ke wilayah Kepulauan Bangka Belitung juga meningkat namun realisasinya selalu dibawah target dengan rata-rata capaian 91,10%. Realisasi  Transfer Ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) ke Kepulauan Bangka Belitung juga meningkat signifikan dengan rata-rata capaian 93,23%. Secara keseluruhan, selama 2016-2018 Kepulauan Bangka Belitung mengalami defisit rata-rata Rp7,2 triliun. Perkembangan pelaksanaan APBN 2019 sampai dengan akhir Agustus 2019 tercatat realisasi pendapatan secara nominal naik sebesar Rp1,09 triliun atau 93,3% dari realisasi periode yg sama TA 2018 sebesar Rp1,16 triliun. Realisasi belanja K/L secara persentase naik 2,79% dibandingkan periode yang sama TA 2018 yang tercatat sebesar 52,7% meskipun secara nominal turun 1,76%. Dan  realisasi TKDD naik 5,47% dibandingkan periode yang sama TA 2018 yang tercatat sebesar 4,62 triliun.

Terkait pelaksanaan APBD 2019 di wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Alfiker menyampaikan bahwa selama 2016-2018, tren realisasi pendapatan daerah mengalami kenaikan, dengan capaian di atas 96%. Sedangkan realisasi belanja justru memiliki tren turun (selalu di bawah 90%) yang mendorong peningkatan surplus APBD. Secara keseluruhan dalam 3 tahun terakhir, APBD mengalami surplus sebesar rata-rata Rp11,5 miliar. Hingga akhir Juli 2019 realisasi pendapatan daerah sebesar Rp4,93 triliun atau 53% dari target. Sumber utama pendapatan daerah adalah pendapatan transfer yang memiliki porsi 77%. Selain itu Alfiker juga menyoroti tentang tingkat kemandirian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang menurutnya masih sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari rasio PAD terhadap total pendapatan daerah pada Juli 2019 sebesar 13,5% atau turun dibandingkan Juli 2018 yang tercatat pada 16,2%.

Dari materi yang dipaparkan dalam seminar tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan di antaranya bahwa perekonomian Indonesia 2020 diproyeksikan tetap dapat tumbuh stabil dan moderat ditengah tekanan global. Sejalan dengan itu tahun 2020 sebagai awal tahapan Jangka Menengah Pertama Menuju Pencapaian Visi Indonesia 2045, maka APBN ditetapkan untuk akselerasi daya saing melalui inovasi dan penguatan kualitas SDM. Untuk meningkatkan pertumbuhan, daya saing, dan kesejahteraan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung perlu melakukan upaya pengembangan sektor unggulan secara lebih masif dan terkoordinasi antara, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah di wilayah Kepulauan Bangka Belitung agar terus berupaya untuk meningkatkan PAD dalam rangka meningkatkan kemandirian daerah.