Pagi itu, Senin 29 Oktober 2018,
seperti biasa saya melakukan absensi masuk kerja di mesin handkey kantor saya, Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan
(DJPb) Prov. Bangka Belitung, yang terletak di depan ruang kerja Bidang PPA II
dan SKKI. Waktu di layar mesin handkey
menunjukkan pukul 07.25. Saya letakkan kelima jari tangan kanan saya di atas
layar dan memastikan bahwa proses absensi sudah diterima sistem. Jangan sampai
terjadi absensi belum diterima tapi sudah beranjak pergi meninggalkan mesin handkey. Kalau terjadi hal seperti itu maka
penghasilan akan dipotong sebesar 2,5% karena dianggap lalai tidak melakukan
absensi. Ketentuan tersebut berlaku di lingkungan Kementerian Keuangan baik di
kantor pusat maupun di unit kerja yang tersebar di seluruh Indonesia.
Ketika memasuki ruangan saya
lihat beberapa pegawai sudah berada di mejanya masing-masing. Saya melihat meja
Pak Abdul Khaer, salah satu orang Kepala Seksi di Bidang PPA II masih kosong. Biasanya
Pak Abdul Khaer sudah berada di mejanya memulai aktifitasnya di pagi hari.
Pegawai yang satu ini termasuk pegawai yang paling rajin, selalu hadir lebih
awal dibandingkan pegawai yang lain.
“Ah mungkin Pak Abdul Khaer Jumat kemarin
pulang ke Tangerang dan sekarang masih dalam perjalanan dari bandara ke kantor,”
pikir saya.
Sama seperti pegawai lainnya
yang berstatus ‘bulok’ atau ‘bujang lokal’, biasanya Jumat sore Pak Abdul Khaer
pulang ke Tangerang untuk bertemu istri dan anak-anaknya dan kembali ke
Pangkalpinang Senin pagi keesokan harinya.
Karena penerbangan pertama pesawat dari Jakarta ke Pangkalpinang pukul
06.00 biasanya Pak Abdul Khaer dan pegawai lain yang pulang baru tiba di kantor
setelah pukul 07.30. Dengan adanya kebijakan flexy time pegawai yang absensi setelah pukul 07.30 sampai pukul 08.00 tidak
diperhitungkan terlambat, tetapi mereka harus menggantinya dengan absensi
pulang lebih lambat sebanyak waktu keterlambatan absensi masuk tadi.
“Assalamu’laikum...!” sapa saya kepada semua pegawai.
“Waalaikum salam...Pak,” jawab
Lisa dengan suara yang sedikit lantang sambil melemparkan senyum. Lisa adalah
salah satu pegawai pelaksana di Bidang PPA II
Kemudian saya masuk ke ruang
kerja dan meletakkan tas kecil berisi handphone,
charger, dan alat tulis di atas meja.
Sejurus kemudian saya ke musholah untuk melaksanakan sholat dhuha. Di musholah ini biasanya Pak Abdul
Khaer juga melaksanakan sholat dhuha.
Ketika sama-sama tinggal di rumah dinas di belakang kantor, kami sering
bersama-sama ke masjid yang tidak jauh dari rumah dinas untuk melaksanakan
sholat berjamaah. Selain rajin beribadah, Pak Abdul Khaer ini terkenal sebagai
orang yang santun dan ramah kepada semua orang. Pak Abdul Khaer juga kerap
membeli makanan atau buah-buahan untuk dimakan bersama-sama teman kantor. Untuk
urusan pekerjaan Pak Abdul Khaer juga selalu mengerjakannya dengan baik dan
tepat waktu. Tak heran kalau Pak Abdul Khaer dinobatkan sebagai Pegawai Teladan
Kanwil DJPb Prov. Bangka Belitung.
Selesai sholat dhuha saya segera kembali ke ruangan.
Ketika memasuki ruangan saya melihat seperti ada kegaduhan dan raut wajah cemas
para pegawai.
“Ada apa mba Lis? Kok sepertinya
ada yang tidak beres?” tanya saya pada Lisa.
“Pesawat Pak Abdul Khaer hilang
kontak Pak,” jawab Lisa dengan suara parau dan terbata-bata.
“Apa? Hilang kontak?” tanya saya
kembali tak percaya.
“Iya Pak. Itu ada beritanya di
televisi,” jawab Lisa menyakinkan saya sambil menunjuk ke televisi di ruangan.
Saya yang biasanya tidak terlalu
peduli dengan siaran televisi langsung menonton siaran televisi yang sedang
menyampaikan berita tentang pesawat Lion Air JT 610 yang hilang kontak.
“Tidak....pesawat itu pasti akan
baik-baik saja,” kata saya dalam hati berusaha menghilangkan rasa cemas.
Semua pegawai seakan tidak
percaya dengan berita yang mereka dengar. Mereka saling bertanya satu sama lain
siapa saja pegawai yang biasanya Jumat pulang dan pagi ini belum tiba di
kantor.
“Pak Sony di mana, sudah sampai
belum?” tanya Ibu Rondang dengan wajah cemas pada rekan kerja di sebelahnya. Pak
Sony adalah kepala seksi yang baru dilantik sepekan yang lalu bersama Ibu
Rondang. Pekan ini adalah perjalanan pertama Pak Sony ke Pangkalpinang setelah
pulang ke Bandung menengok keluarganya Jumat sore kemarin.
“Belum Bu,“ jawab Pak Setya Twiono
singkat. Pak Setya Twiono atau yang biasa kami panggil Mas Ono adalah pegawai pelaksana bawahan Pak Sony.
“Dari Bagian Umum, PPA I,
PAPK...siapa yang belum datang?” tanya Pak Wahyu.
“Dari Bagian Umum Pak Bambang
dan Pak Endang....” jawab Pak Nazif.
“PAPK Pak Fadilah dan Pak Eko...juga
belum sampai” timpal Pak Zuhdi.
“Pak Asep dan Pak Syaiful PPA I
bagaimana?” tanya Ibu Rita sambil tergopoh-gopoh keluar dari ruang kerjanya.
“Pak Asep dan Pak Syaeful tidak
pulang Bu. Kemaren mereka bersama saya lembur di kantor,” jawab Pak Joko yang
baru tiba di ruangan kami untuk mencari informasi keberadaan pegawai lain.
Ibu Rita, Pak Joko, Pak Asep dan
Pak Syaeful sebenarnya termasuk pegawai yang sering pulang kampung setiap Jumat
sore dan kembali Senin pagi. Bersama pegawai lainya biasanya mereka kembali ke
Pangkalpinang dengan pesawat yang sama. Tapi pekan ini mereka tidak pulang
mungkin karena pekan lalu sudah pulang atau karena masih ada keperluan lain di
Pangkalpinang.
“Pak Joyo Nuroso KPPN
Pangkalpinang kata anak buahnya Jumat sore juga pulang dan pagi ini belum tiba
di kantor,” kata Fajar pegawai pelaksana Bidang PPA II yang sedari tadi terdiam
seakan tidak bisa berkata apa-apa.
“Ya Allah...berarti tujuh orang
kawan-kawan kita menumpang pesawat Lion
Air JT 610,” kata saya lagi berusaha menyimpulkan informasi tersebut.
Akhirnya semua pegawai kembali
memperhatikan berita yang disampaikan melalui televisi di ruangan kami.
Masing-masing berusaha menenangkan perasaannya yang cemas bercampur sedih mendengar
berita ini. Dan saya terus berdoa semoga pesawat tersebut bisa segera dihubungi oleh pihak
bandara Soekarno-Hatta dan semuanya dalam kondisi baik dan selamat.
Tapi tiba-tiba kru di televisi menyampaikan
bahwa berdasarkan keterangan otoritas bandara Soekarno-Hatta, pesawat Lion Air
JT 610 dinyatakan jatuh. Seketika semua pegawai di ruangan berteriak histeris
sambil menutup telinga seakan tak ingin mendengar berita itu. Sebagian pegawai menutup
wajah sambil mengusap air mata yang sedari tadi tertahan. Kalimat “innalillahi wainna ilaihi rojiun” pun
meluncur dari mulut mereka.
Pak Supendi, kepala kantor kami yang
sedari tadi mengikuti berita ini di ruang kerjanya, turun dan bergabung dengan
kami. Beliau memerintahkan Pak Mujiono selaku Kepala Bagian Umum untuk segera
ke bandara Depati Amir untuk memastikan siapa saja pegawai yang termasuk
sebagai penumpang pesawat Lion Air JT 610. Akhirnya saya dan beberapa pegawai lain
ikut ke bandara Depati Amir menggunakan mobil dinas kantor.
Di dalam mobil yang membawa kami
ke bandara kami mendapat berita yang simpang-siur tentang keberadaan pesawat
itu. “Pak ini saya dapat pesan Whatsapp, katanya
pesawat sudah mendarat dengan selamat di bandara,” kata Pak Asep menyampaikan
berita yang diterimanya.
“Wah benar tidak berita itu Pak?
Hati-hati dalam situasi seperti ini sering ada berita-berita yang tidak jelas
kebenarannya,” kata Pak Mujiono.
“Oh ya Pak, ternyata pesan ini
dari penumpang pesawat Sriwijaya yang jadwalnya hampir sama dengan Lion Air,”
kata Pak Asep meralat informasinya.
“Barusan saya juga dapat
informasi dari Ibu Rita, ternyata Pak Sony naik pesawat Sriwijaya bukan Lion
Air,” kata Pak Tantowi.
“Wah mana yang benar ini...semalam
saya lihat di facebook Pak Sony memajang foto tiket pesawat Lion Air. Tapi pagi ini di status facebok beliau bilang
ketinggalan pesawat,” kata Pak Asep lagi menyampaikan berita yang tidak kalah
hebohnya.
“MasyaAllah...bisa jadi Pak Sony
ketinggalan pesawat Lion Air kemudian naik pesawat Srwijaya,” kata saya
berandai-andai.
Ketika tiba di bandara saya
lihat ruang lobby bandara sudah penuh dengan orang yang mencari informasi
tentang Lion Air JT 610. Mereka berdesak-desakan ingin bertemu dengan pihak
yang berwenang untuk mengetahui nasib keluarga atau kerabat mereka. Karena
petugas tidak mungkin melayani pertanyaan masyarakat satu per satu, akhirnya
petugas membacakan daftar penumpang Lion Air JT 610. Berdasarkan informasi tersebut Pak Abdul
Khaer bersama lima pegawai Kanwil dan KPPN termasuk dalam daftar penumpang
pesawat Lion Air yang jatuh itu yaitu
Bambang Rozali Usman, Akhmad Endang Rokhmana, Mohamad Fadillah, Eko Sutanto,
dan Joyo Nuroso. Dan....Pak Sony tidak termasuk sebagai penumpang
pesawat Lion Air JT 610.
Akhirnya saya berusaha mencari
informasi lebih detail tentang Pak Sony. Informasi yang saya terima ternyata Pak Sony terlambat datang ke bandara sehingga
tertinggal pesawat Lion Air yang seharusnya ia tumpangi. Karena harus segera
masuk kantor akhirnya Pak Sony naik pesawat Sriwijaya.
Saat itu juga saya menghubungi Pak
Sony melalui telepon genggam. Ternyata Pak Sony baru saja turun dari pesawat
Sriwijaya yang membawanya dari Jakarta ke Pangkalpinang. Saya lihat dari balik
kaca ruang kedatangan Pak Sony berjalan dengan langkah sedikit gontai.
Sepertinya ada kegalauan dan kegamangan yang berkecamuk dalam hatinya. Ketika Pak
Sony keluar dari pintu ruang kedatangan, saya dan teman-teman pun menyalami dan
memeluknya bergantian.
“Selamat ya Pak Sony...Allah
masih melindungi Bapak,” kata saya sambil memeluk tubuhnya yang gemuk. Saya merasakan
tubuhnya bergetar dan agak lemas.
“Terima kasih Pak, rupanya Allah
punya rencana lain untuk saya kenapa saya terlambat sampai di bandara
Soekarno-Hatta dan tertinggal pesawat Lion Air,” kata Pak Sony berusaha menjelaskan
rasa penasaran kami.
“Waktu berangkat saya tidak tahu
ada musibah ini, saya baru tahu di sini setelah pesawat saya mendarat,” kata Pak
Sony lagi seperti tidak percaya dengan kejadian ini. Saya berusaha menenangkan Pak
Sony dan menceritakan kejadian yang sebenarnya dan kabar teman-teman kantor
yang naik pesawat Lion Air naas itu.
Sambil menunggu Pak Mujiono
berkoordinasi dengan pihak bandara untuk menentukan langkah-langkah berikutnya,
saat itu juga saya menelepon isteri Pak Abdul Khaer melalui telepon genggam.
Cukup lama juga telepon berdering dan baru diangkat setelah beberapa menit kemudian.
Saya sempat terdiam tidak tahu apa yang mau dikatakan.
“Assalamu’alaikum...maaf dengan
siapa ya?” akhirnya terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.
“Maaf apa benar ini dengan Ibu Mutoharoh?”
kata saya malah balik bertanya.
“Iya...betul...” jawab Ibu Mutoharoh
dengan suara datar.
“Ibu... Ibu sudah mengetahui berita
jatuhnya pesawat Lion Air?” tanya saya kemudian.
“Sudah tahu Pak dari televisi,”
jawab Ibu Mutoharoh tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
“Ibu ikhlaskan Pak Abdul Khaer
ya. Semoga Ibu tabah menghadapi musibah ini,” kata saya berusaha menguatkan Ibu
Mutoharoh.
“Memang sudah pasti pesawatnya
jatuh ya Pak? Memang sudah pasti semua penumpangnya tidak ada yang selamat?”
tanya Ibu Mutoharoh seakan tidak percaya dengan berita itu.
“Menurut penjelasan dari pihak
yang berwenang pesawat yang ditumpangi Pak Abdul Khaer memang jatuh Bu,” jawab
saya mencoba menyakinkan.
“Sementara ini masih dilakukan
pencarian pesawat dan penumpang Bu. Kita berdoa saja semoga penumpangnya
selamat,” kata saya lagi meski agak ragu.
Akhirnya tidak lama kemudian
saya mengakhiri percakapan karena Ibu Mutoharoh saat itu masih di ruang kelas
sedang mengajar. Saya sangat kagum dengan isteri Pak Abdul Khaer ini. Beliau
sangat tegar dengan musibah yang dihadapinya. Di tengah-tengah berita jatuhnya
pesawat yang ditumpangi suaminya, beliau masih sempat mengajar melaksanakan
tugasnya sebagai guru di sebuah MTsN. Beberapa waktu yang lalu saya beserta
istri pernah bertemu beliau dan anak-anaknya ketika liburan sekolah ke
Pangkalpinang.
Namun saya sangat merasakan
sebenarnya Ibu Mutoharoh berusaha menekan perasaannya. Pasti beliau berharap
tidak terjadi apa-apa dengan suaminya. Dalam pembicaraan melalui telepon Ibu Mutoharoh
juga sempat bercerita saat-saat terakhir melepas Pak Abdul Khaer berangkat
menuju bandara menjelang subuh. Sebenarnya keberangkatan Pak Abdul Khaer sempat
terhambat dengan pesanan taksi online yang 2 kali dibatalkan. Padahal daerah
tempat tinggal Pak Abdul Khaer termasuk yang mudah untuk akses taksi online.
Menurut Ibu Mutoharoh mungkin karena malam itu baru turun hujan sehingga
mempengaruhi jumlah pengemudi yang siap menerima pesanan.
Akhirnya Pak Abdul Khaer memesan
taksi konvesional melalui telepon rumah. Karena nomor telepon yang digunakan
sudah terdaftar dalam sistem perusahaan taksi tersebut maka tidak lama kemudian
taksi tiba di depan rumah. Sebelum naik taksi Pak Abdul Khaer berpamitan dengan
isterinya. Sebuah kecupan lembut di kening Ibu Mutoharoh seakan menjadi kecupan
terakhir dari Pak Abdul Khaer. Pak Abdul
Khaer juga masih sempat menitip salam buat anak-anaknya yang masih tertidur lelap
dan berpesan pada istrinya untuk selalu menjaga mereka.
Karena di luar masih terasa
rintik-rintik air hujan semalam, Ibu Mutoharoh hanya melepas Pak Abdul Khaer
dari depan pintu rumah tidak sampai pintu taksi. Ibu Mutoharoh hanya melihat
lambaian tangan suaminya dari dalam taksi tanpa sempat membalasnya. Hal itulah
yang mungkin menambah kesedihan Ibu Mutoharoh sehingga beliau masih tidak
percaya dengan peristiwa yang telah terjadi.
Akhirnya saya dan teman-teman
segera kembali ke kantor untuk melaporkan nama-nama pegawai yang ikut dalam
pesawat Lion Air JT 610 ke kepala kantor. Namun
ternyata korban tidak hanya berasal dari unit kerja DJPb saja tetapi
juga dari KPKNL Pangkalpinang, KPP Pratama Pangkalpinang dan KPP Pratama Bangka. Total
pegawai Kementerian Keuangan yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion
Air JT610 berjumlah 21 orang.
Suasana di kantor hari itu begitu terasa
mencekam. Seharian itu sepertinya kami tidak lagi memiliki semangat kerja. Kami
merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Tetapi kami berusaha saling
menguatkan satu sama lain.
Saat itu saya masih sempat
berpikir, “Ah seandainya saja hari Jumat sore itu mereka tidak pulang menemui
keluarganya, mungkin mereka tidak akan mendapat musibah ini.” Tapi musibah ini
adalah kehendak Sang Pencipta. Semua kejadian sudah ditakdirkan oleh Allah,
kita tinggal menjalaninya saja. Kita semua pasti akan kembali kepada-Nya. Kita
tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana kita akan menghadap Allah kelak.
Termasuk cara bagaimana penumpang pesawat Lion Air JT 610 itu kembali kepada-Nya.
Pak Abdul Khaer dan teman-teman saya yang ikut menjadi korban jatuhnya pesawat pesawat
Lion Air JT 610 adalah pejuang bangsa dan keluarga. Mereka harus pergi untuk
melaksanakan tugas sebagai abdi negara dan pulang kembali untuk melepaskan rasa
rindu kepada keluarga meskipun hanya sebentar. Dan Allah telah memilihkan mereka jalan pulang
menuju keabadian surga-Nya.






