Selasa, 29 Oktober 2019

Jalan Pulang


Pagi itu, Senin 29 Oktober 2018, seperti biasa saya melakukan absensi masuk kerja di mesin handkey kantor saya, Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Prov. Bangka Belitung, yang terletak di depan ruang kerja Bidang PPA II dan SKKI. Waktu di layar mesin handkey menunjukkan pukul 07.25. Saya letakkan kelima jari tangan kanan saya di atas layar dan memastikan bahwa proses absensi sudah diterima sistem. Jangan sampai terjadi absensi belum diterima tapi sudah beranjak pergi meninggalkan mesin handkey. Kalau terjadi hal seperti itu maka penghasilan akan dipotong sebesar 2,5% karena dianggap lalai tidak melakukan absensi. Ketentuan tersebut berlaku di lingkungan Kementerian Keuangan baik di kantor pusat maupun di unit kerja yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ketika memasuki ruangan saya lihat beberapa pegawai sudah berada di mejanya masing-masing. Saya melihat meja Pak Abdul Khaer, salah satu orang Kepala Seksi di Bidang PPA II masih kosong. Biasanya Pak Abdul Khaer sudah berada di mejanya memulai aktifitasnya di pagi hari. Pegawai yang satu ini termasuk pegawai yang paling rajin, selalu hadir lebih awal dibandingkan pegawai yang lain.
 “Ah mungkin Pak Abdul Khaer Jumat kemarin pulang ke Tangerang dan sekarang masih dalam perjalanan dari bandara ke kantor,” pikir saya. 

Sama seperti pegawai lainnya yang berstatus ‘bulok’ atau ‘bujang lokal’, biasanya Jumat sore Pak Abdul Khaer pulang ke Tangerang untuk bertemu istri dan anak-anaknya dan kembali ke Pangkalpinang Senin pagi keesokan harinya.  Karena penerbangan pertama pesawat dari Jakarta ke Pangkalpinang pukul 06.00 biasanya Pak Abdul Khaer dan pegawai lain yang pulang baru tiba di kantor setelah pukul 07.30. Dengan adanya kebijakan flexy time pegawai yang absensi setelah pukul 07.30 sampai pukul 08.00 tidak diperhitungkan terlambat, tetapi mereka harus menggantinya dengan absensi pulang lebih lambat sebanyak waktu keterlambatan absensi masuk tadi.

 “Assalamu’laikum...!” sapa saya kepada semua pegawai.
“Waalaikum salam...Pak,” jawab Lisa dengan suara yang sedikit lantang sambil melemparkan senyum. Lisa adalah salah satu pegawai pelaksana di Bidang PPA II

Kemudian saya masuk ke ruang kerja dan meletakkan tas kecil berisi handphone, charger, dan alat tulis di atas meja. Sejurus kemudian saya ke musholah untuk melaksanakan sholat dhuha. Di musholah ini biasanya Pak Abdul Khaer juga melaksanakan sholat dhuha. Ketika sama-sama tinggal di rumah dinas di belakang kantor, kami sering bersama-sama ke masjid yang tidak jauh dari rumah dinas untuk melaksanakan sholat berjamaah. Selain rajin beribadah, Pak Abdul Khaer ini terkenal sebagai orang yang santun dan ramah kepada semua orang. Pak Abdul Khaer juga kerap membeli makanan atau buah-buahan untuk dimakan bersama-sama teman kantor. Untuk urusan pekerjaan Pak Abdul Khaer juga selalu mengerjakannya dengan baik dan tepat waktu. Tak heran kalau Pak Abdul Khaer dinobatkan sebagai Pegawai Teladan Kanwil DJPb Prov. Bangka Belitung.

Selesai sholat dhuha saya segera kembali ke ruangan. Ketika memasuki ruangan saya melihat seperti ada kegaduhan dan raut wajah cemas para pegawai.
“Ada apa mba Lis? Kok sepertinya ada yang tidak beres?” tanya saya pada Lisa.
“Pesawat Pak Abdul Khaer hilang kontak Pak,” jawab Lisa dengan suara parau dan terbata-bata.
“Apa? Hilang kontak?” tanya saya kembali tak percaya.
“Iya Pak. Itu ada beritanya di televisi,” jawab Lisa menyakinkan saya sambil menunjuk ke televisi di ruangan.
Saya yang biasanya tidak terlalu peduli dengan siaran televisi langsung menonton siaran televisi yang sedang menyampaikan berita tentang pesawat Lion Air JT 610 yang hilang kontak.
“Tidak....pesawat itu pasti akan baik-baik saja,” kata saya dalam hati berusaha menghilangkan rasa cemas.

Semua pegawai seakan tidak percaya dengan berita yang mereka dengar. Mereka saling bertanya satu sama lain siapa saja pegawai yang biasanya Jumat pulang dan pagi ini belum tiba di kantor.
“Pak Sony di mana, sudah sampai belum?” tanya Ibu Rondang dengan wajah cemas pada rekan kerja di sebelahnya. Pak Sony adalah kepala seksi yang baru dilantik sepekan yang lalu bersama Ibu Rondang. Pekan ini adalah perjalanan pertama Pak Sony ke Pangkalpinang setelah pulang ke Bandung menengok keluarganya Jumat sore kemarin.

“Belum Bu,“ jawab Pak Setya Twiono singkat. Pak Setya Twiono atau yang biasa kami panggil Mas Ono  adalah pegawai pelaksana bawahan Pak Sony.
“Dari Bagian Umum, PPA I, PAPK...siapa yang belum datang?” tanya Pak Wahyu.
“Dari Bagian Umum Pak Bambang dan Pak Endang....” jawab Pak Nazif.
“PAPK Pak Fadilah dan Pak Eko...juga belum sampai” timpal Pak Zuhdi.
“Pak Asep dan Pak Syaiful PPA I bagaimana?” tanya Ibu Rita sambil tergopoh-gopoh keluar dari ruang kerjanya.
“Pak Asep dan Pak Syaeful tidak pulang Bu. Kemaren mereka bersama saya lembur di kantor,” jawab Pak Joko yang baru tiba di ruangan kami untuk mencari informasi keberadaan pegawai lain.

Ibu Rita, Pak Joko, Pak Asep dan Pak Syaeful sebenarnya termasuk pegawai yang sering pulang kampung setiap Jumat sore dan kembali Senin pagi. Bersama pegawai lainya biasanya mereka kembali ke Pangkalpinang dengan pesawat yang sama. Tapi pekan ini mereka tidak pulang mungkin karena pekan lalu sudah pulang atau karena masih ada keperluan lain di Pangkalpinang.

“Pak Joyo Nuroso KPPN Pangkalpinang kata anak buahnya Jumat sore juga pulang dan pagi ini belum tiba di kantor,” kata Fajar pegawai pelaksana Bidang PPA II yang sedari tadi terdiam seakan tidak bisa berkata apa-apa.
“Ya Allah...berarti tujuh orang kawan-kawan kita  menumpang pesawat Lion Air JT 610,” kata saya lagi berusaha menyimpulkan informasi tersebut.

Akhirnya semua pegawai kembali memperhatikan berita yang disampaikan melalui televisi di ruangan kami. Masing-masing berusaha menenangkan perasaannya yang cemas bercampur sedih mendengar berita ini. Dan saya terus berdoa semoga pesawat  tersebut bisa segera dihubungi oleh pihak bandara Soekarno-Hatta dan semuanya dalam kondisi baik dan selamat.

Tapi tiba-tiba kru di televisi menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan otoritas bandara Soekarno-Hatta, pesawat Lion Air JT 610 dinyatakan jatuh. Seketika semua pegawai di ruangan berteriak histeris sambil menutup telinga seakan tak ingin mendengar berita itu. Sebagian pegawai menutup wajah sambil mengusap air mata yang sedari tadi tertahan. Kalimat innalillahi wainna ilaihi rojiun” pun meluncur dari mulut mereka.

Pak Supendi, kepala kantor kami yang sedari tadi mengikuti berita ini di ruang kerjanya, turun dan bergabung dengan kami. Beliau memerintahkan Pak Mujiono selaku Kepala Bagian Umum untuk segera ke bandara Depati Amir untuk memastikan siapa saja pegawai yang termasuk sebagai penumpang pesawat Lion Air JT 610. Akhirnya saya dan beberapa pegawai lain ikut ke bandara Depati Amir menggunakan mobil dinas kantor. 

Di dalam mobil yang membawa kami ke bandara kami mendapat berita yang simpang-siur tentang keberadaan pesawat itu. “Pak ini saya dapat pesan Whatsapp, katanya pesawat sudah mendarat dengan selamat di bandara,” kata Pak Asep menyampaikan berita yang diterimanya.
“Wah benar tidak berita itu Pak? Hati-hati dalam situasi seperti ini sering ada berita-berita yang tidak jelas kebenarannya,” kata Pak Mujiono.
“Oh ya Pak, ternyata pesan ini dari penumpang pesawat Sriwijaya yang jadwalnya hampir sama dengan Lion Air,” kata Pak Asep meralat informasinya.
“Barusan saya juga dapat informasi dari Ibu Rita, ternyata Pak Sony naik pesawat Sriwijaya bukan Lion Air,” kata Pak Tantowi.
“Wah mana yang benar ini...semalam saya lihat di facebook Pak Sony memajang foto tiket pesawat Lion Air.  Tapi pagi ini di status facebok beliau bilang ketinggalan pesawat,” kata Pak Asep lagi menyampaikan berita yang tidak kalah hebohnya.
“MasyaAllah...bisa jadi Pak Sony ketinggalan pesawat Lion Air kemudian naik pesawat Srwijaya,” kata saya berandai-andai.

Ketika tiba di bandara saya lihat ruang lobby bandara sudah penuh dengan orang yang mencari informasi tentang Lion Air JT 610. Mereka berdesak-desakan ingin bertemu dengan pihak yang berwenang untuk mengetahui nasib keluarga atau kerabat mereka. Karena petugas tidak mungkin melayani pertanyaan masyarakat satu per satu, akhirnya petugas membacakan daftar penumpang Lion Air JT 610.  Berdasarkan informasi tersebut Pak Abdul Khaer bersama lima pegawai Kanwil dan KPPN termasuk dalam daftar penumpang pesawat Lion Air yang jatuh itu yaitu Bambang Rozali Usman, Akhmad Endang Rokhmana, Mohamad Fadillah, Eko Sutanto, dan Joyo Nuroso. Dan....Pak Sony tidak termasuk sebagai penumpang pesawat Lion Air JT 610.

Akhirnya saya berusaha mencari informasi lebih detail tentang Pak Sony. Informasi yang saya terima ternyata  Pak Sony terlambat datang ke bandara sehingga tertinggal pesawat Lion Air yang seharusnya ia tumpangi. Karena harus segera masuk kantor akhirnya Pak Sony naik pesawat Sriwijaya.

Saat itu juga saya menghubungi Pak Sony melalui telepon genggam. Ternyata Pak Sony baru saja turun dari pesawat Sriwijaya yang membawanya dari Jakarta ke Pangkalpinang. Saya lihat dari balik kaca ruang kedatangan Pak Sony berjalan dengan langkah sedikit gontai. Sepertinya ada kegalauan dan kegamangan yang berkecamuk dalam hatinya. Ketika Pak Sony keluar dari pintu ruang kedatangan, saya dan teman-teman pun menyalami dan memeluknya bergantian. 

“Selamat ya Pak Sony...Allah masih melindungi Bapak,” kata saya sambil memeluk tubuhnya yang gemuk. Saya merasakan tubuhnya bergetar dan agak lemas.
“Terima kasih Pak, rupanya Allah punya rencana lain untuk saya kenapa saya terlambat sampai di bandara Soekarno-Hatta dan tertinggal pesawat Lion Air,” kata Pak Sony berusaha menjelaskan rasa penasaran kami.
“Waktu berangkat saya tidak tahu ada musibah ini, saya baru tahu di sini setelah pesawat saya mendarat,” kata Pak Sony lagi seperti tidak percaya dengan kejadian ini. Saya berusaha menenangkan Pak Sony dan menceritakan kejadian yang sebenarnya dan kabar teman-teman kantor yang naik pesawat Lion Air naas itu.

Sambil menunggu Pak Mujiono berkoordinasi dengan pihak bandara untuk menentukan langkah-langkah berikutnya, saat itu juga saya menelepon isteri Pak Abdul Khaer melalui telepon genggam. Cukup lama juga telepon berdering dan baru diangkat setelah beberapa menit kemudian. Saya sempat terdiam tidak tahu apa yang mau dikatakan. 

“Assalamu’alaikum...maaf dengan siapa ya?” akhirnya terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.
“Maaf apa benar ini dengan Ibu Mutoharoh?” kata saya malah balik bertanya.
“Iya...betul...” jawab Ibu Mutoharoh dengan suara datar.
“Ibu... Ibu sudah mengetahui berita jatuhnya pesawat Lion Air?” tanya saya kemudian.
“Sudah tahu Pak dari televisi,” jawab Ibu Mutoharoh tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
“Ibu ikhlaskan Pak Abdul Khaer ya. Semoga Ibu tabah menghadapi musibah ini,” kata saya berusaha menguatkan Ibu Mutoharoh.
“Memang sudah pasti pesawatnya jatuh ya Pak? Memang sudah pasti semua penumpangnya tidak ada yang selamat?” tanya Ibu Mutoharoh seakan tidak percaya dengan berita itu.
“Menurut penjelasan dari pihak yang berwenang pesawat yang ditumpangi Pak Abdul Khaer memang jatuh Bu,” jawab saya mencoba menyakinkan.
“Sementara ini masih dilakukan pencarian pesawat dan penumpang Bu. Kita berdoa saja semoga penumpangnya selamat,” kata saya lagi meski agak ragu.

Akhirnya tidak lama kemudian saya mengakhiri percakapan karena Ibu Mutoharoh saat itu masih di ruang kelas sedang mengajar. Saya sangat kagum dengan isteri Pak Abdul Khaer ini. Beliau sangat tegar dengan musibah yang dihadapinya. Di tengah-tengah berita jatuhnya pesawat yang ditumpangi suaminya, beliau masih sempat mengajar melaksanakan tugasnya sebagai guru di sebuah MTsN. Beberapa waktu yang lalu saya beserta istri pernah bertemu beliau dan anak-anaknya ketika liburan sekolah ke Pangkalpinang. 

Namun saya sangat merasakan sebenarnya Ibu Mutoharoh berusaha menekan perasaannya. Pasti beliau berharap tidak terjadi apa-apa dengan suaminya. Dalam pembicaraan melalui telepon Ibu Mutoharoh juga sempat bercerita saat-saat terakhir melepas Pak Abdul Khaer berangkat menuju bandara menjelang subuh. Sebenarnya keberangkatan Pak Abdul Khaer sempat terhambat dengan pesanan taksi online yang 2 kali dibatalkan. Padahal daerah tempat tinggal Pak Abdul Khaer termasuk yang mudah untuk akses taksi online. Menurut Ibu Mutoharoh mungkin karena malam itu baru turun hujan sehingga mempengaruhi jumlah pengemudi yang siap menerima pesanan. 

Akhirnya Pak Abdul Khaer memesan taksi konvesional melalui telepon rumah. Karena nomor telepon yang digunakan sudah terdaftar dalam sistem perusahaan taksi tersebut maka tidak lama kemudian taksi tiba di depan rumah. Sebelum naik taksi Pak Abdul Khaer berpamitan dengan isterinya. Sebuah kecupan lembut di kening Ibu Mutoharoh seakan menjadi kecupan terakhir  dari Pak Abdul Khaer. Pak Abdul Khaer juga masih sempat menitip salam buat anak-anaknya yang masih tertidur lelap dan berpesan pada istrinya untuk selalu menjaga mereka. 

Karena di luar masih terasa rintik-rintik air hujan semalam, Ibu Mutoharoh hanya melepas Pak Abdul Khaer dari depan pintu rumah tidak sampai pintu taksi. Ibu Mutoharoh hanya melihat lambaian tangan suaminya dari dalam taksi tanpa sempat membalasnya. Hal itulah yang mungkin menambah kesedihan Ibu Mutoharoh sehingga beliau masih tidak percaya dengan peristiwa yang telah terjadi.

Akhirnya saya dan teman-teman segera kembali ke kantor untuk melaporkan nama-nama pegawai yang ikut dalam pesawat Lion Air JT 610 ke kepala kantor. Namun ternyata korban tidak hanya berasal dari unit kerja DJPb saja tetapi juga dari KPKNL Pangkalpinang, KPP Pratama Pangkalpinang  dan KPP Pratama Bangka. Total pegawai Kementerian Keuangan yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 berjumlah 21 orang.

Suasana di kantor hari itu begitu terasa mencekam. Seharian itu sepertinya kami tidak lagi memiliki semangat kerja. Kami merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Tetapi kami berusaha saling menguatkan satu sama lain. 

Saat itu saya masih sempat berpikir, “Ah seandainya saja hari Jumat sore itu mereka tidak pulang menemui keluarganya, mungkin mereka tidak akan mendapat musibah ini.” Tapi musibah ini adalah kehendak Sang Pencipta. Semua kejadian sudah ditakdirkan oleh Allah, kita tinggal menjalaninya saja. Kita semua pasti akan kembali kepada-Nya. Kita tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana kita akan menghadap Allah kelak. Termasuk cara bagaimana penumpang pesawat Lion Air JT 610 itu kembali kepada-Nya. Pak Abdul Khaer dan teman-teman saya yang ikut menjadi korban jatuhnya pesawat pesawat Lion Air JT 610 adalah pejuang bangsa dan keluarga. Mereka harus pergi untuk melaksanakan tugas sebagai abdi negara dan pulang kembali untuk melepaskan rasa rindu kepada keluarga meskipun hanya sebentar.  Dan Allah telah memilihkan mereka jalan pulang  menuju keabadian surga-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar