Hari ini, tepat 40 hari saya meninggalkan kota Surabaya. Bagi sebagian umat Muslim, hari ke-40 merupakan hari yang sangat penting. Menurut kepercayaan mereka arwah orang yang meninggal dunia pergi meninggalkan bumi menuju alam barzah pada hari ke-40. Selama empat puluh hari itu, katanya arwah mereka masih bergentayangan di bumi. Makanya dalam waktu 40 hari itulah keluarga yang ditinggalkan mengadakan upacara pembacaan doa biar arwah tersebut tenang. Pembacaan doa atau yang disebut tahlilan itu biasanya dilakukan selama 7 hari berturut-turut. Setelah itu pada hari ke-40, ke-100 dan ke-1000.
Tapi, hari ke-40 yang saya maksud di sini tidak terkait dengan meninggalnya seseorang. Ini hanya cara saya untuk memberi arti pentingnya hari ini bagi perjalanan hidup saya. Empat puluh hari yang lalu, tepatnya tanggal 21 November 2011, saya resmi pindah tugas dari Surabaya ke Jakarta.
Pada saat itu bisa pindah tugas ke tanah kelahiran bukanlah hal yang mudah. Apalagi mutasi saat itu adalah yang pertama kali sejak kantor pusat menempatkan lulusan Prodip Anggaran pada tahun 1990 di seluruh Indonesia. Pegawai lulusan Prodip Anggaran yang telah bertugas lebih dari 5 tahun di luar pulau Jawa pada tahun 1997 ditarik seluruhnya ke Jakarta, kecuali mereka yang memilih untuk tetap berada di tempat tugas yang lama.
Karena orangtua dan saudara kandung saya semua ada di Jakarta maka kepindahan saya di kota ini seperti pulang kampung saja. Namun meskipun bisa dekat dengan orangtua dan saudara saya merasakan kehidupan yang sangat berbeda dengan kota sebelumnya, Banda Aceh. Jarak antara rumah dan kantor yang sangat jauh membuat saya harus berangkat lebih awal dan pulang lebih lambat dari biasanya. Belum lagi sarana transportasi dan kemacetan yang cukup membuat badan terasa penat ketika sampai di rumah. Meskipun begitu di kota ini anggota keluarga saya bertambah 2 orang anak laki-laki yang menambah kebahagian kami sekeluarga. Kehadiran istri dan anak-anak sungguh menjadi pengibur dan pengusir rasa lelah.
Namun di kota ini saya juga tidak bisa berlama-lama menikmati kebersamaan dengan keluarga besar. Pada tahun 2003 saya dipindahkan lagi sekaligus dipromosikan menjadi Kepala Sub Seksi di KPKN Selong. Istri dan ketiga anak saya bawa serta ke kota Selong karena berat rasanya kalau saya harus berjauhan dengan mereka.
Pada tahun yang sama lahir anak saya yang keempat dan 2 tahun kemudian saya dipromosikan menjadi Kepala Seksi di KPPN Sumbawa Besar. Karena alasan pendidikan anak, saya tidak membawa istri dan anak-anak ke Sumbawa Besar, mereka tetap berada di Selong. Setiap Jumat sore saya pulang ke Selong dan kembali ke Sumbawa Besar pada Ahad sore dengan mengendarai sepeda motor menyeberang selat Sumbawa dengan kapal ferry, kemudian menyusuri jalan yang sepi pada malam hari demi buah hati dan ibu pertiwi. Hal itu berlangsung sekitar 1,5 tahun sampai saya dimutasikan ke KPPN Mataram pada saat pembukaan KPPN Percontohan tahap pertama pada tahun 2007.
Pada saat tugas di Mataram selama 2 tahun itu saya pernah mengangankan kota tujuan mutasi setelah Mataram yaitu Banda Aceh. Banda Aceh menjadi pilihan karena saya ingin membawa keempat anak saya mengunjungi kampung halaman ibu dan nenek mereka. Sejak pindah dari Banda Aceh pada tahun 1997 hingga 2007 belum pernah sekalipun kami pulang ke Aceh. Masalah biaya dan kerepotan lainnya menjadi hal sangat saya pertimbangkan. Hal itu juga yang menyebabkan setiap Idul Fitri kami selalu merayakan di kota tempat saya bertugas. Termasuk ketika saya mutasi ke kota berikutnya pada tahun 2009, yaitu Surabaya, bukan Banda Aceh seperti yang saya harapkan.Waktu itu saya dimutasikan ke KPPN Surabaya I pada saat pembukaan KPPN Percontohan tahap III.
Ternyata kota Surabaya menawarkan dan memberikan banyak hal, mulai dari budaya dan masyarakatnya yang terbuka, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan hiburan yang berkelas, hingga keanekaragaman kulinernya yang sangat menggoda. Maka masa tugas 3 tahun sungguh terasa sangat singkat. Namun apa boleh buat, panggilan tugas ke kantor pusat sudah menunggu. Dengan berat hati akhirnya pada 21 November 2011 saya meninggalkan Surabaya menuju Jakarta meskipun harus berpisah sementara dengan istri dan anak-anak karena masih harus menyelesaikan sekolah sampai akhir Desember nanti.
Setelah 8 tahun meninggalkan Jakarta dan hidup di kota
kecil yang nyaman seperti Selong, Sumbawa Besar, Mataram dan kota besar seperti
Surabaya kemudian kembali lagi ke Jakarta, tentu banyak hal berbeda yang saya
rasakan. Pindah ke Jakarta berarti saya harus mengulang kembali kehidupan 8
sampai 13 tahun yang lalu. Saya harus kembali menghadapi kemacetan, polusi dan
banjir yang kerap melanda. Belum lagi masalah tempat tinggal.
Untuk bisa memiliki rumah sendiri atau sekedar mengontrak rumah di Jakarta bukanlah hal yang mudah bagi saya pada saat itu. Berbagai upaya saya lakukan untuk mendapatkan tempat tinggal, mulai dari menumpang di rumah orang tua, mengontrak rumah petak dekat pinggir rel kereta api, hingga mengambil kredit rumah yang jauhnya memakan waktu 2 jam perjalanan dari rumah ke kantor. Sampai akhirnya rumah itu saya ditinggalkan dan kembali lagi ke rumah kontrakan.
Hal itu pula yang saya lakukan sekarang yaitu berupaya untuk mendapatkan rumah untuk tempat tinggal bersama keluarga. Ingin menempati rumah sendiri yang terletak di Maja (Lebak) terlalu jauh dan kurang memadai. Ingin mengontrak rumah yang tidak terlalu jauh dari kantor juga terasa berat karena harganya yang cukup mahal. Harapn satu-satunya adalah menempati rumah dinas meskipun harus menunggu karena keterbatasan rumah dinas yang tersedia. Akhirnya menumpang di rumah orang tua menjadi pilihan sementara sambil menunggu kepastian ijin menempati rumah dinas dan istri serta anak-anak juga masih di Surabaya.
Untuk bisa memiliki rumah sendiri atau sekedar mengontrak rumah di Jakarta bukanlah hal yang mudah bagi saya pada saat itu. Berbagai upaya saya lakukan untuk mendapatkan tempat tinggal, mulai dari menumpang di rumah orang tua, mengontrak rumah petak dekat pinggir rel kereta api, hingga mengambil kredit rumah yang jauhnya memakan waktu 2 jam perjalanan dari rumah ke kantor. Sampai akhirnya rumah itu saya ditinggalkan dan kembali lagi ke rumah kontrakan.
Hal itu pula yang saya lakukan sekarang yaitu berupaya untuk mendapatkan rumah untuk tempat tinggal bersama keluarga. Ingin menempati rumah sendiri yang terletak di Maja (Lebak) terlalu jauh dan kurang memadai. Ingin mengontrak rumah yang tidak terlalu jauh dari kantor juga terasa berat karena harganya yang cukup mahal. Harapn satu-satunya adalah menempati rumah dinas meskipun harus menunggu karena keterbatasan rumah dinas yang tersedia. Akhirnya menumpang di rumah orang tua menjadi pilihan sementara sambil menunggu kepastian ijin menempati rumah dinas dan istri serta anak-anak juga masih di Surabaya.
Jadi, sebenarnya sama seperti kepercayaan sebagian
umat Muslim yang saya sebut di atas, sebenarnya selama 40 hari ini saya masih
‘gentayangan’ dalam artian saya masih tinggal di rumah orang tua, rumah tempat saya dibesarkan. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapatkan
rumah dinas Kementerian Keuangan yang terletak di Karang Tengah (Ciledug,
Tangerang) yang akan saya tempati selama bertugas di kantor pusat. Makanya, setelah selama 40 hari lamanya tidak bertemu istri dan anak-anak tercinta,
Insyaallah sore hari ini tanggal 30 Desember 2011 saya akan pulang ke Surabaya untuk
menjemput ‘bidadari’ dan ‘malaikat kecil’ saya. Bagi saya mereka adalah
‘surga’ tempat saya kembali.
Ya, saya menyebutnya surga karena ada pepatah yang mengatakan ‘rumahku adalah surgaku’. Kita semua pasti menginginkan rumah yang kita tempati, meskipun sederhana, menjadi tempat yang menyenangkan, memberi rasa tentram dan damai, serta menemukan kenikmatan-kenikmatan seperti yang ada di surga yang sesungguhnya nanti. Rumah itu akan menjadi surga bila ada 'bidadari' dan 'malaikat kecil' yang akan selalu bersama kita dalam keadaan suka maupun duka.
Ya, saya menyebutnya surga karena ada pepatah yang mengatakan ‘rumahku adalah surgaku’. Kita semua pasti menginginkan rumah yang kita tempati, meskipun sederhana, menjadi tempat yang menyenangkan, memberi rasa tentram dan damai, serta menemukan kenikmatan-kenikmatan seperti yang ada di surga yang sesungguhnya nanti. Rumah itu akan menjadi surga bila ada 'bidadari' dan 'malaikat kecil' yang akan selalu bersama kita dalam keadaan suka maupun duka.





