Kamis, 27 Juni 2019

Antara Mudik, Silaturahmi dan Literasi


Judul di atas tiba-tiba muncul di benak saya di tengah kegalauan antara mudik, silaturahmi dan tugas literasi. Di tengah-tengah mudik dan silaturahmi Idul Fitri tahun ini ada satu tugas dari kantor yang harus selesaikan oleh pejabat eselon III dan eselon IV instansi vertikal DJPb, yaitu membuat sebuah tulisan. Mudik dan menulis adalah dua hal yang berbeda, namun ketika dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan tentu bukan perkara yang mudah.

Mudik adalah momen penting bagi pegawai yang bekerja di daerah orang seperti sebagian besar pegawai DJPb. Idul Fitri pun menjadi saat yang tepat untuk mudik ke kampung halaman. Bertemu dan berkumpul bersama keluarga besar, sanak saudara, dan teman-teman waktu kecil dalam suasana Idul Fitri adalah saat yang sangat ditunggu-tunggu. Menjalin kembali tali silaturahmi yang sempat terputus karena rutinitas dan kesibukan bekerja menjadi suatu keharusan.

Melupakan dan meninggalkan sejenak rutinitas dan kesibukan bekerja karena mudik dan silaturahmi Idul Fitri tentu tidak ada salahnya. Tapi tentu saja jangan sampai karena mudik dan silaturahmi tersebut lalu melalaikan tugas penting yang harus segera diselesaikan. Apalagi bila tugas tersebut memiliki batas waktu yang bersamaan dengan waktu mudik dan silaturahmi tersebut. Menyelesaikan tugas sebelum mudik tentu lebih bijaksana.  Menyelesaikannya setelah mudik hasilnya tentu akan berbeda karena waktu yang tersedia semakin ‘mepet’ sementara pekerjaan lain sudah menunggu.

Tahun ini kantor pusat DJPb telah menetapkan Program Perbendaharaan Menulis atau Tahun Literasi. Setiap pejabat eselon III dan eselon IV instansi vertikal DJPb diwajibkan untuk membuat sebuah tulisan dalam bentuk artikel, esai, opini, pengalaman pribadi, cerita pendek, atau kisah inspiratif. Tulisan tersebut akan dinilai oleh sebuah tim dan dijadikan salah satu indikator dalam menilai kinerja pegawai serta dilombakan. Sebenarnya ini bukan tugas mendadak. Setidaknya pada saat penandatanganan kontrak kinerja dengan atasan langsungnya pada awal tahun, setiap pegawai sudah bisa mulai menulis. Bila tugas itu dikerjakan lebih awal, tentu akan lebih leluasa dalam menyelesaikannya sampai batas waktu yang telah ditentukan.

Tugas itu sendiri baru dilaksanakan pada triwulan kedua. Tulisan diserahkan kepada tim penilai paling lambat akhir bulan Juni. Sementara bulan Juni tahun ini hanya menyisakan dua belas hari kerja, yaitu lima hari sebelum dan tujuh hari setelah Idul Fitri, karena sudah dipotong libur dan cuti bersama. Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum dan sesudah Idul Fitri ditambah lagi panjangnya libur dan cuti bersama, membuat kita harus memanfaatkan waktu mudik ini dengan baik, agar tugas menulis itu bisa diselesaikan tepat pada waktunya.

Bagi sebagian orang menulis itu gampang. Tetapi bagi sebagian besar lainya menulis bukanlah perkara mudah, apalagi bila dilakukan untuk pertama kalinya. Sebenarnya sebagian besar pejabat eselon III dan eselon IV instansi vertikal DJPb sudah dibekali dengan pelatihan keterampilan menulis (writing skills). Pada saat pelatihan tersebut setiap peserta  juga sudah mendapat tugas untuk membuat tulisan baik dalam bentuk artikel ataupun berita. Beberapa di antaranya bahkan sudah mampu membuat tulisan yang baik dan berhasil dimuat di media cetak dan online tingkat lokal maupun nasional. Selain itu kantor pusat juga sudah menyediakan media untuk memuat tulisan para pegawainya seperti web DJPb, Forum Kajian Perbendaharaan, Indonesian Treasury Update (ITUp),  dan majalah Treasury. Sayang media itu belum dimanfaatkan secara optimal oleh pegawai. Program Perbendaharaan Menulis  ini dimaksudkan untuk mendorong pegawai memiliki budaya membaca dan menulis.

Untuk bisa menulis modal utama yang harus dimiliki seseorang sebenarnya adalah kebiasaan membaca. Dengan banyak membaca banyak hal yang dapat diketahui dan bisa menjadi bahan untuk menulis. Ketika masih duduk di sekolah dasar (SD) saya termasuk yang gemar membaca, terutama membaca majalah anak-anak seperti Bobo, Ananda, dan Kawanku. Karena buku masih menjadi barang mewah, untuk bisa membaca buku maka saya pun menjadi anggota perpustakaan. Sejak kelas empat SD hingga lulus SMP, setiap hari minggu pagi secara rutin saya mengunjungi perpustakaan Balai Pustaka yang dulu letaknya berdampingan dengan kantor Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng. Buku yang paling sering saya baca dan pinjam adalah buku cerita anak dan remaja, sastra, dan ensiklopedia.

Dari kegemaran membaca tersebut akhirnya saya bisa membuat beberapa tulisan berupa puisi dan cerita pendek dan mengirimnya ke majalah anak-anak. Selain itu saya juga mulai menulis surat ke beberapa kedutaan besar negara sahabat yang ada di Jakarta untuk meminta buku tentang negara tersebut, seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, Belanda, Denmark, Australia, Jepang, Iran,  dan Arab Saudi. Bahkan dengan keluguan seorang anak SD, saya juga pernah menulis dan mengirim surat kepada Presiden Soeharto untuk meminta buku-buku tentang kepurbakalaan dan keantariksaan yang sangat menarik perhatian saya.

Kegemaran membaca itulah yang juga mengantarkan saya saat kelas satu SMP menjadi juara dalam lomba menulis di sekolah. Bahkan pada saat kelas dua SMP saya sudah bisa menulis ‘surat cinta’ sebanyak tiga lembar kertas folio bolak-balik dengan tulisan tangan. Namun surat itu tidak berbalas. Ketika masih duduk di kelas satu sekolah menengah atas (SMA), saya pernah menulis sebuah cerpen berjudul “Galuh dan Ratno”. Cerpen ini saya adaptasi dari sebuah film remaja saat itu. Namun, sekali lagi, sayangnya cerpen itu tidak pernah saya selesaikan.

Dengan kegemaran membaca dan pengalaman menulis puisi, cerpen dan surat itu sebenarnya dunia literasi bukanlah hal yang baru bagi saya.Tapi sayang kegiatan itu terhenti sejak saya kuliah. Mungkin karena kesibukan kuliah di sekolah kedinasan yang membutuhkan konsentrasi ‘tingkat dewa’ agar tidak drop-out di tengah jalan. Tulisan yang saya buat setelah itu hanya berupa tugas kuliah dan surat dinas ketika sudah bekerja. Namun, nampaknya kemampuan menulis itu kini harus saya asah kembali. Tahun ini bisa menjadi awal yang baik bagi saya untuk kembali menekuni dunia literasi.

Kesulitan utama menulis, menurut saya, adalah pada saat memilih topik yang akan ditulis. Pada saat akan mulai menulis biasanya kita dihadapkan pada banyak pilihan topik mulai dari yang ringan sampai yang berat. Menulis tentang pekerjaan sehari-hari sebenarnya lebih mudah. Namun agar tulisan itu berbobot tentu harus didukung oleh data yang akurat dan analisa yang tajam dan disajikan dalam bahasa yang populer agar mudah dipahami dan enak dibaca. Apalagi bila tulisan tersebut mengupas topik yang sedang ‘in’ tentu akan lebih menarik dan layak dimuat di media massa.

Bagi pegawai yang baru akan mulai menulis kembali seperti saya  sering kali terjebak pada topik yang terlalu ‘berat’. Tulisan dengan topik berat tentu harus dipersiapkan dengan baik, terutama data pendukung. Karena itu akhirnya kita sibuk mengumpulkan bahan tulisan sampai akhirnya lupa untuk mulai menulis. Itulah sebabnya, kenapa akhirnya saya belum mulai menulis sampai libur dan cuti bersama Idul Fitri tiba, karena sibuk mencari topik yang paling ‘pas’ untuk ditulis.

Di sekitar kita sebenarnya banyak topik yang menarik untuk di tulis, mulai dari pengalaman pribadi, perjalanan hidup seseorang, hobi, keluarga, dan peristiwa penting lainnya. Pengalaman mudik dan silaturahmi Idul Fitri tentu bisa menjadi salah satu topik yang menarik untuk ditulis. Banyak pengalaman dan peristiwa yang terjadi selama mudik dan silaturahmi yang bisa ditulis dan  bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Mulai dari merencanakan dan mempersiapkan keberangkatan, pemilihan sarana transportasi dan waktu yang tepat, pengalaman selama perjalanan, suasana Idul Fitri di kampung halaman, pertemuan dengan keluarga, kerabat dan teman-teman, wisata ke tempat rekreasi, dan lain-lain.

Kalau kita mau sedikit kompromi dengan keadaan, sebenarnya tidak ada alasan tidak bisa menyelesaikan tugas menulis dalam suasana  mudik dan silaturahmi. Mudik, silaturahmi, dan  tugas literasi bisa dilaksanakan bersama-sama. Di tengah kesibukan mudik dan silaturahmi itu tentu kita masih bisa menyediakan waktu untuk menulis setiap pengalaman. Gawai yang kita miliki bisa menjadi sarana untuk mengabadikan semua peristiwa itu. Apalagi bila ditambah dengan rekaman dalam bentuk gambar, suara, atau video tentu akan bertambah seru. Mudik dan silaturahmi Idul Fitri tahun ini pun akan lebih bermakna. Kalau pun mudik dan silaturahmi sudah usai, kita masih bisa mengingatnya kembali dan mengabadikannya dalam sebuah tulisan.
Jadi tunggu apalagi? Ayo, mulai menulis sekarang!

(Literasi Triwulan II-2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar